Tutup
EkonomiNews

Bitcoin Anjlok, Tekanan Global Mendorong Investor Bersiap Lebih Dalam

133
×

Bitcoin Anjlok, Tekanan Global Mendorong Investor Bersiap Lebih Dalam

Sebarkan artikel ini
bitcoin-ambruk-ke-level-terendah,-analis-prediksi-terkoreksi-lebih-dalam-menuju-us$70.000
Bitcoin Ambruk ke Level Terendah, Analis Prediksi Terkoreksi Lebih Dalam Menuju US$70.000

Jakarta – Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan. Aset kripto utama ini menyentuh level terendah dalam sembilan bulan terakhir, merosot hingga US$82.000.

Tekanan global disebut menjadi penyebab utama penurunan tajam ini. Analis bahkan mewaspadai potensi penurunan lebih dalam hingga ke level US$70.000.

Data CoinGecko mencatat, Bitcoin sempat menyentuh titik terendah di US$82.134 atau sekitar Rp1,3 miliar (estimasi kurs Rp16.770 per dolar AS). koreksi ini terjadi setelah penurunan 7,4 persen dalam 24 jam pada perdagangan Kamis (29/1/2026).

Pantauan pada Jumat (30/1/2026) pukul 09.15, Bitcoin terus terkoreksi ke level US$81.834,94. namun,pada Sabtu (31/1/2026) pukul 03.00, Bitcoin menunjukkan sinyal pemulihan ke level US$84.120.

Hingga saat ini, Bitcoin diperdagangkan di harga US$83.009,97, menguat 0,53 persen dalam 24 jam terakhir. Secara mingguan, penurunan Bitcoin mencapai 10,70 persen.

Kepala Riset platform opsi on-chain Derive, Sean Dawson, menilai koreksi Bitcoin saat ini belum mencapai titik terendah.Investor opsi bahkan bersiap untuk skenario penurunan lanjutan ke kisaran US$70.000 hingga US$75.000.

Dawson menyoroti UU Clarity Act yang sedang dibahas di Senat AS sebagai langkah positif dari sisi regulasi. Namun, sentimen tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mendorong pemulihan harga Bitcoin dalam waktu dekat.

“Secara keseluruhan, saya memperkirakan awal Februari yang menyakitkan,” kata Dawson, seperti dikutip dari Decrypt, Sabtu (31/1/2026).

Koreksi tajam Bitcoin menyeret pasar kripto secara keseluruhan. Total kapitalisasi pasar kripto anjlok 6,7 persen, sementara likuiditas pasar menyusut hingga US$1,68 miliar atau setara lebih dari Rp28,1 triliun.

Aksi jual besar-besaran ini memukul posisi trader, terutama di pasar derivatif. tekanan terhadap Bitcoin semakin dalam setelah pasar bereaksi negatif terhadap arah kebijakan politik Amerika Serikat.

Usulan Trump untuk menunjuk Kevin Warsh, mantan Gubernur Federal Reserve (The Fed) yang dikenal sebagai inflation hawk, sebagai ketua The Fed berikutnya memicu kekhawatiran investor.

“Pelaku pasar memperkirakan ketua berikutnya adalah Kevin Warsh, kritikus lama pelonggaran kuantitatif dan diduga sebagai sosok pro-pengetatan. Ini bersifat bearish bagi Bitcoin dalam jangka pendek,” ujar analis investasi Fisher8 capital,Lai yuen.

Sentimen negatif juga datang dari kebijakan agresif Presiden AS Donald Trump yang menandatangani perintah eksekutif darurat nasional terkait tarif bagi negara-negara pemasok minyak ke Kuba, serta meningkatnya spekulasi intervensi AS di Iran.