Jakarta – Robert Kiyosaki, penulis buku laris “Rich Dad Poor Dad,” kembali membuat prediksi mengejutkan.Ia memperkirakan harga Bitcoin bisa melambung hingga US$750.000 atau setara dengan Rp 12,71 miliar.
Kiyosaki meyakini level harga fantastis ini akan tercapai setelah krisis keuangan global berikutnya menerjang. Ia bahkan memperingatkan bahwa dunia saat ini berada di ambang “gelembung terbesar” dalam sejarah.
Pernyataan Kiyosaki muncul di tengah pasar yang dilanda ketidakpastian. Konflik geopolitik di Timur Tengah,yang melibatkan AS,Israel,dan Iran,memicu lonjakan harga komoditas dan ketidakjelasan arah kebijakan bank sentral.
“Ketika gelembung pecah, Bitcoin akan menyentuh US$750.000 per koin dan Ethereum US$95.000 setahun setelah krisis,” ujar Kiyosaki, seperti dikutip dari Mint, Senin (23/3/2026).
Menurut data CoinMarketCap,harga Bitcoin saat ini berada di level US$70.352,21, naik 2,55 persen dalam 24 jam terakhir hingga pukul 19.42 WIB. Sementara itu, Ethereum diperdagangkan di posisi US$2.134, menguat 2,46 persen.
Kiyosaki tidak memberikan detail kapan “gelembung ekonomi” itu akan pecah. Namun, ia menegaskan bahwa waktunya sudah dekat.
“Gelembung besar akan pecah. Saya tidak tahu peristiwa apa yang akan menjadi pemicunya. Apa pun itu, waktunya sudah dekat. Ini bukan soal apakah akan terjadi, tapi kapan,” tegasnya.
Selain aset kripto, Kiyosaki juga meramalkan harga logam mulia akan melonjak setelah krisis. Ia memprediksi emas bisa mencapai US$35.000 per ons dan perak menembus US$200.
Pandangan kiyosaki ini memperkuat keyakinannya bahwa sistem keuangan global masih sangat rentan terhadap guncangan besar. ia menilai aset riil dan mata uang terdesentralisasi akan menjadi pelindung utama saat krisis melanda.
Sementara itu, ekonom sekaligus pengamat pasar, Peter Schiff, memberikan pandangan berbeda. Ia menyoroti pergerakan pasar dalam jangka pendek, khususnya pada logam mulia.
Schiff melihat perak tengah memasuki fase kenaikan signifikan. “Perak baru saja mencatat breakout besar, dan lonjakan eksplosif berikutnya bisa dimulai kapan saja.Jika Anda menunggu harga masuk yang lebih baik, biasanya pasar tidak akan memberikannya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti saham perusahaan tambang emas dan perak yang justru terkoreksi tajam. Meski demikian, Schiff menilai kondisi ini bisa menjadi peluang bagi investor, mengingat kinerja sepanjang tahun masih positif.







