Tutup
EkonomiInvestasiPerbankan

BUMN Merespons Delisting Waskita, Cari Solusi Terbaik

224
×

BUMN Merespons Delisting Waskita, Cari Solusi Terbaik

Sebarkan artikel ini
bp-bumn-buka-suara-soal-isu-delisting-saham-waskita-imbas-merger
BP BUMN Buka Suara Soal Isu Delisting Saham Waskita Imbas Merger

Jakarta – Badan Pengaturan Badan Usaha milik Negara (BP BUMN) buka suara terkait potensi delisting saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

BP BUMN saat ini tengah menyiapkan merger sejumlah perusahaan pelat merah.

Wakil Kepala BP BUMN, Aminuddin Ma’ruf, meminta semua pihak untuk bersabar menunggu proses tersebut.

“Ya nanti tunggu saja ya, nanti ada kita buat klaster beberapa BUMN untuk yang BUMN karya itu,” ujar Aminuddin usai acara Business Forum 2025 di Jakarta, Rabu (19/11).

Aminuddin menjelaskan, BP BUMN sedang mempercepat proses holdingisasi atau merger kelompok BUMN karya.

Targetnya,kebijakan ini rampung pada Desember 2025.

“Memang proses merger, holdingisasi, pembubaran, pembentukan BUMN itu ada di kami tepatnya. Sedang kami kaji bagaimana merger kelompok BUMN karya, tapi mudah-mudahan Desember ini selesai,” imbuhnya.

BP BUMN juga menggandeng BP Investasi daya Anagata Nusantara (Danantara) dalam proses merger ini.

“Mudah-mudahan seperti itu, kami sedang bekerja dengan tim di Danantara juga, untuk memastikan proses itu berjalan,” tegas Aminuddin.

Sebelumnya, Direktur Utama Waskita Karya, Hanugroho, menyampaikan adanya peluang delisting saham WSKT akibat merger BUMN karya.

Rencana korporasi terkait hal ini masih dalam kajian bersama Danantara Aset Manajemen.

“Karena pembahasan mengenai kita dari go public menjadi go private itu sangat mungkin juga itu dalam pembahasan kita. Jadi ini masih subjek itu dari hasil final bentuk struktur konsolidasi integrasinya,” kata Hanugroho.

Hanugroho menambahkan, proses konsolidasi ini membutuhkan waktu karena mempertimbangkan kesiapan bisnis masing-masing perusahaan hingga persoalan pegawai.

Waskita merupakan perusahaan terbuka dengan sebagian saham dimiliki publik.

“Apalagi ini ada perusahaan TBK, kita harus perhatikan respons pasar ataupun investor yang ada di market, itu kita juga harus akomodir, kira-kira responsnya seperti apa,” jelas Hanugroho.

Dalam rencana penggabungan tersebut, terdapat potensi penurunan nilai aset sehingga perlu penyesuaian struktural.

“Jadi market value-lah intinya gitu. Jadi tidak ada lagi misalnya potensi yang berakibat after dari integrasi itu ada angka-angka yang muncul tiba-tiba yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jadi kita tuh readiness-nya betul-betul kita matangkan,” pungkasnya.