Jakarta – DANA menggandeng Tech in Asia dan didukung Alibaba Cloud menggelar forum diskusi AI@Work Lab. Forum ini membahas pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) secara bertanggung jawab.Tujuannya jelas, memberikan dampak nyata dan memperkuat daya saing Indonesia di ekonomi digital global.
CEO dan Co-Founder DANA indonesia, Vince Iswara, menyebut AI sebagai “global reset”. Semua negara memulai dari titik yang sama.
“Pembeda utamanya bukan pada siapa yang memiliki sumber daya terbesar, tetapi siapa yang dapat menerapkan AI secara efektif dengan tata kelola yang kuat dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasinya,” ujar Vince, dikutip dari keterangan resmi, Selasa (23/4/2024).
DANA menegaskan, AI hadir untuk memberdayakan manusia, bukan menggantikannya.
dalam sesi panel, Vince menjelaskan penerapan AI di DANA berprinsip pada pemberdayaan, bukan penggantian. DANA mengimplementasikan AI untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas karyawan di berbagai lini bisnis.
“Di DANA, kami melihat bagaimana penerapan AI mampu meningkatkan produktivitas tim pengembang hingga 1,3 kali lipat, dengan sekitar 30 persen kode baru yang kini dihasilkan melalui dukungan AI,” paparnya.
Forum AI@Work Lab juga menyoroti tantangan mendasar di sektor publik dan swasta.
Direktur Kebijakan dan Inovasi Komunikasi Digital (Komdigi), Sonny Hendra Sudaryana, mengingatkan pentingnya kesiapan regulasi dan infrastruktur untuk transformasi digital yang inklusif dan berkelanjutan.
Pemerintah memperkuat konektivitas digital dan mengembangkan kerangka 4C Framework (Connectivity, compute, Content, dan Competence) untuk pemerataan akses dan peningkatan kompetensi talenta digital.
Isu tata kelola yang kuat juga menjadi sorotan untuk memastikan penerapan AI yang aman dan inklusif.
DANA menerapkan model tata kelola berlapis yang membedakan penggunaan AI di tingkat perusahaan dan individu. Mereka juga melibatkan tim keamanan informasi, manajemen risiko, dan kebijakan publik untuk memastikan kepatuhan terhadap UU PDP.vince Iswara menjelaskan, tata kelola AI di DANA diawali dengan edukasi. Setiap karyawan dipastikan memahami tujuan dan cara menggunakan AI yang bertanggung jawab sebelum SOP ditetapkan.
Diskusi juga menyoroti persepsi bahwa penerapan AI membutuhkan biaya besar. Vince Iswara mengakui banyak organisasi mengira implementasi AI memerlukan infrastruktur besar dan anggaran penelitian jutaan dolar.
“Saat ini sudah tersedia berbagai alat yang terjangkau dan modular, yang memungkinkan perusahaan untuk memulai dari skala kecil, bereksperimen, dan berkembang secara berkelanjutan,” kata vince.
DANA membuktikan integrasi AI dapat dimulai dari skala kecil yang berdampak nyata dengan panduan dan alat bantu internal.
Forum ini juga menghadirkan pandangan dari perwakilan industri global, termasuk Microsoft, yang membahas konsep frontier organizations.
Hal ini sejalan dengan visi ASEAN sebagai pasar digital terpadu dan hub AI untuk negara berkembang.
Kolaborasi antara sektor publik dan swasta penting untuk mengoptimalkan implementasi AI.
Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menyelaraskan pembelajaran antara industri dan pembentukan kebijakan AI yang progresif.
DANA juga memperluas penerapan AI melalui inisiatif pemberdayaan seperti SisBerdaya bagi UMKM perempuan dan komunitas pengguna Sobat DANA.
Diskusi ini akan dirangkum dalam laporan AI Enablement Playbook yang akan diluncurkan pada november mendatang.
AI@Work Lab berupaya membangun momentum kolektif menuju ekosistem AI yang bertanggung jawab, inklusif, dan siap menghadapi masa depan.







