Tutup
NewsPendidikan

Dharmasraya Kembangkan Kampus Hijau, Lahirkan Generasi Berilmu

192
×

Dharmasraya Kembangkan Kampus Hijau, Lahirkan Generasi Berilmu

Sebarkan artikel ini
langkah-dari-dharmasraya:-menyemai-ilmu-di-kampus-hijau
Langkah dari Dharmasraya: Menyemai Ilmu di Kampus Hijau

Padang – Merantau telah menjadi tradisi yang melekat dalam budaya Minangkabau, bukan sekadar meninggalkan kampung halaman, tetapi juga membawa visi untuk kemajuan.

Tradisi ini menjadi ajang pembuktian diri, kemandirian, adaptasi, serta membawa pulang ilmu dan rezeki bagi keluarga.

Sejak dahulu, masyarakat Minangkabau dikenal sebagai perantau yang tersebar di seluruh Nusantara.Warisan leluhur ini menjadi semacam kewajiban bagi mereka yang mulai beranjak dewasa.

Nilai yang terbangun dalam kultur Minangkabau adalah merantau sebagai tanda kecintaan pada kampung halaman. Hal ini tercermin dalam ungkapan: “Sayang jo anak dilacuik i, sayang jo kampuang ditinggakan.”

Pepatah ini bermakna bahwa merantau adalah upaya membangun kembali kampung halaman. Tak heran, ikatan sosial masyarakat Minangkabau sangat kuat.Perantau Minang tak hanya peduli pada kelompoknya. Banyak dari mereka menjadi tokoh masyarakat setempat, berjuang bersama masyarakat sekitar.

Mohammad Hatta, pemuda asal Bukittinggi, merantau ke Belanda untuk menimba ilmu ekonomi dan mengasah pemikiran politiknya. di sana,Hatta belajar tentang keadilan sosial dan sistem ekonomi yang kemudian ia bawa untuk membangun Indonesia merdeka.Selain itu, Tan Malaka, pemuda asal Sumatera Barat yang menjunjung tinggi pendidikan dan tradisi merantau, juga merupakan tokoh penggerak revolusi Indonesia.

“Karatau madang di hulu, babuah babungo balun, karantau bujang dahulu, dirumah paguno alun.” Pepatah ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan filosofi kehidupan yang menjadi sumber semangat bagi masyarakat Minangkabau.

Dari sudut pandang ekonomi, perantau Minangkabau yang tersebar di seluruh penjuru tanah air dan luar negeri adalah aset terbesar bagi tanah kelahiran mereka. Kontribusi ekonomi perantau Minang terhadap daerah asal sangat signifikan.

Seiring waktu, pola merantau orang Minang mengalami evolusi. Jika dulu hanya laki-laki yang merantau, kini para perantau mulai membawa keluarga atau saudara perempuan ke perantauan.

Kebiasaan merantau telah menjadi tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi di Minangkabau.

“Sudah tidak tabu lagi jika menemukan perantau dengan asal yang sama dengan saya, baik untuk meneruskan pendidikan maupun bekerja,” ujar Nabila Oktaf Putri, mahasiswa perantau asal Payakumbuh dari Fakultas Peternakan Universitas Andalas.

Di era modern, merantau bukan hanya ajang perbaikan ekonomi, tetapi juga untuk menuntut ilmu.

Jiwa perantau yang kuat pada orang Minangkabau membuat banyak dari mereka yang awalnya hanya berjualan di kaki lima menjadi sukses. Tak sedikit perantau Minang menempati posisi penting di berbagai kawasan, bahkan sampai ke mancanegara.

Kisah sukses para perantau terdahulu menjadi motivasi bagi mahasiswa Sastra Jepang Universitas Andalas, khususnya yang berlatar belakang Minangkabau, untuk berperan dalam tradisi merantau.