Tutup
EkonomiNews

Ekspor Baja Nikel Pacu Surplus Dagang Januari

62
×

Ekspor Baja Nikel Pacu Surplus Dagang Januari

Sebarkan artikel ini
dari-baja-hingga-nikel,-ekspor-ri-ke-tiongkok-tembus-us$5,27-miliar-di-januari-2026
Dari Baja hingga Nikel, Ekspor RI ke Tiongkok Tembus US$5,27 Miliar di Januari 2026

Jakarta – Kabar baik datang dari neraca perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca dagang pada Januari 2026 mencapai US$0,95 miliar.

Dengan capaian ini, Indonesia telah mencatatkan surplus neraca dagang selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2021.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan tiga negara utama tujuan ekspor non-migas indonesia.

Tiongkok, Amerika Serikat (AS), dan India menjadi pasar utama ekspor non-migas Indonesia.

“Kontribusi ketiga negara ini mencapai 43,77 persen dari total nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/3/2026).

Tiongkok masih menjadi pasar ekspor terbesar dengan nilai US$5,27 miliar (24,80 persen).

Disusul Amerika Serikat (AS) sebesar US$2,51 miliar (11,82 persen), dan India sebesar US$1,52 miliar (7,15 persen).

Ekspor non-migas ke Tiongkok didominasi oleh besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral.

Sementara ekspor ke AS sebagian besar berupa mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesoris rajutan.

Dari sisi impor,nilai impor Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar US$21,20 miliar. Angka ini naik 18,21 persen (yoy) dibandingkan Januari 2025.

Sektor non-migas masih menjadi penyumbang utama impor, dengan nilai US$18,04 miliar atau naik 16,71 persen dibandingkan Januari 2025.

“Impor sektor migas meningkat hingga 27,52 persen menjadi sebesar US$3,17 miliar pada Januari 2026,” kata ateng.

Peningkatan impor pada Januari 2026 terjadi pada bahan baku/penolong, barang modal, serta barang konsumsi.

Nilai impor bahan baku/penolong tercatat US$14,88 miliar,naik 14,67 persen dibandingkan Januari 2025.

sementara impor barang modal tercatat sebesar US$4,49 miliar,atau naik 35,23 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.

“Surplus perdagangan non-migas pada Januari 2026 sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama,” jelas Ateng.

Komoditas tersebut adalah lemak dan minyak hewani/nabati sebesar US$3,10 miliar, bahan bakar mineral sebesar US$2,16 miliar, besi dan baja sebesar US$1,51 miliar, nikel dan barang daripadanya sebesar US$1,03 miliar, serta alas kaki sebesar US$0,49 miliar.

Energi

Memahami Makna di Balik Perang Iran Vs Israel…