Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor komoditas minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan turunannya masih menjadi andalan indonesia pada periode Januari hingga Mei 2025. Nilai ekspor CPO mencapai 8,90 miliar dolar AS dengan volume 8,30 juta ton.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS,Pudji Ismartini,pada selasa (2/7/2025) di Jakarta,mengungkapkan adanya kenaikan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Nilai ekspor CPO dan turunannya naik 27,89 persen secara kumulatif,” kata Pudji. Pada periode Januari-Mei 2024, nilai ekspor CPO tercatat 6,96 miliar dolar AS, dengan volume 8,01 juta ton.
BPS juga mencatat negara tujuan utama ekspor CPO pada periode Januari hingga Mei 2025 adalah Pakistan, India, dan China.
Data BPS menunjukkan bahwa ekspor CPO dan turunannya pada periode 2020-2024 mengalami fluktuasi. Pada 2020, nilai ekspor CPO mencapai 17,36 miliar dolar AS dengan volume 25,94 juta ton. Kemudian, pada 2021, naik menjadi 26,76 miliar dolar AS dengan volume 25,62 juta ton. Pada 2022, nilai ekspor CPO kembali meningkat menjadi 27,74 miliar dolar AS dengan volume 24,99 juta ton.
Namun,pada 2023,nilai ekspor CPO mengalami penurunan menjadi 22,69 miliar dolar AS dengan volume 26,13 juta ton,dan kembali turun pada 2024 menjadi 20,05 miliar dolar AS dengan volume 21,64 juta ton.
Secara keseluruhan, BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Mei 2025 mencapai 24,61 miliar dolar AS, naik 9,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh komoditas nonmigas seperti lemak dan minyak hewan/nabati.Ekspor migas tercatat sebesar 1,11 miliar dolar AS atau turun 21,71 persen, sementara nilai ekspor nonmigas naik sebesar 11,89 persen menjadi 23,50 miliar dolar AS.
Peningkatan nilai ekspor secara tahunan pada Mei 2025 didorong oleh lonjakan ekspor nonmigas, terutama komoditas lemak dan minyak hewan/nabati yang naik 63,01 persen dan berkontribusi sebesar 4,50 persen.
Selain itu,ekspor besi dan baja juga meningkat 27,58 persen dengan andil 2,70 persen,serta mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya naik 45,11 persen dengan andil 2,58 persen.
Pada Mei 2025, total ekspor nonmigas mencapai 23,50 miliar dolar AS. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan berkontribusi sebesar 0,63 miliar dolar AS; pertambangan dan lainnya sebesar 3,11 miliar dolar AS; serta industri pengolahan menyumbang sebesar 19,76 miliar dolar AS.
Secara tahunan, sektor pertanian dan industri pengolahan mengalami kenaikan, sedangkan sektor pertambangan mengalami penurunan. Peningkatan ekspor nonmigas terutama berasal dari sektor industri pengolahan yang naik 20,40 persen dengan andil 14,92 persen. Pudji menjelaskan pada Selasa (2/7/2025), peningkatan secara tahunan ini disebabkan oleh meningkatnya nilai ekspor kelapa sawit, minyak kelapa sawit, logam dasar bukan besi, barang perhiasan dan barang berharga, semikonduktor dan komponen elektronik lainnya, serta kimia dasar organik dari hasil pertanian.







