Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam dalam sepekan terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan investor. Data menunjukkan bahwa IHSG merosot 3,61 persen dan mencapai level 6.907 pada hari Jumat.Tekanan terhadap IHSG diperparah dengan aksi jual bersih oleh investor asing di pasar reguler yang mencapai Rp4,6 triliun. Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, penurunan ini disebabkan oleh kekhawatiran teknikal pasar.”Ada pattern double top pada timeframe daily IHSG dan hal ini dikonfirmasi pada perdagangan Jumat lalu bahwa area neckline dari double top sudah tertembus dan cenderung mengarah bearish,” ujarnya pada hari senin.
Pelemahan pasar ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Ketegangan geopolitik di Timur tengah masih menjadi perhatian utama. Meskipun Presiden AS menunda aksi militer terhadap Iran untuk memberikan kesempatan diplomasi selama dua pekan, harga minyak tetap berfluktuasi di kisaran 75-78 dolar AS per barel.
di sisi lain, suku bunga acuan The Fed tetap dipertahankan pada level 4,25-4,50 persen. Pasar menilai kebijakan ini tetap hawkish mengingat tingkat inflasi yang masih tinggi. Berbeda dengan The Fed, Swiss dan Norwegia justru menurunkan suku bunga sebagai respons terhadap pelemahan mata uang dan tekanan ekonomi.
bank indonesia juga mengambil langkah dengan menahan suku bunga di 5,50 persen dengan tujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Tekanan terhadap rupiah muncul akibat penguatan dolar AS dan ketidakpastian global.
Menyikapi kondisi pasar yang tidak menentu ini, IPOT menekankan pentingnya diversifikasi aset bagi investor, terutama masyarakat umum. Selain saham, obligasi dinilai sebagai instrumen yang dapat memberikan perlindungan lebih stabil bagi dana investor.
“Geopolitik antara Israel-Iran masih krusial. Jika konflik mereda, minyak turun dan saham konsumen terangkat. Sebaliknya,jika eskalasi meningkat,pasar energi naik dan sektor pertahanan mendapat keuntungan,” kata David.
Menjelang pekan perdagangan yang lebih pendek pada 23-26 Juni 2025, karena adanya libur Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah, IPOT merekomendasikan beberapa langkah antisipatif. Salah satunya adalah melalui produk IPOT bond yang memungkinkan masyarakat untuk membeli obligasi pemerintah dengan harga yang lebih terjangkau dan imbal hasil yang lebih tinggi.
IPOT memberikan rekomendasi saham, antara lain BRPT (Barito Pacific Tbk) dengan sektor energi terbarukan, entry di Rp1.500, dan target Rp1.600. Secara teknikal, BRPT bergerak dalam fase uptrend. Fase retrace dan konsolidasi memberikan area entry yang baik dengan risiko terukur. Pemerintah Indonesia menargetkan transisi ke energi bersih pada tahun 2025, menjadikan BRPT sebagai salah satu pilihan menarik.
Selanjutnya, saham BBNI (Bank Negara Indonesia atau BNI) dari sektor perbankan, entry di Rp4.110,dan target Rp4.300. Meskipun secara teknikal BBNI bergerak turun, saat ini adalah waktu yang tepat di area support.Entry point di area sekarang memberikan risiko yang sangat terukur, didukung oleh keputusan BI yang menahan suku bunga.
Kemudian,saham ISAT (Indosat Ooredoo hutchison) dari sektor telekomunikasi,entry di Rp2.100, dan target Rp2.250. ISAT bergerak dalam tren yang sangat baik,terlihat dari candlestick yang terus bergerak di atas MA5. Jika area konsolidasi ini berhasil di-breakout dengan volume,maka akan sangat menarik.Selain saham, IPOT juga merekomendasikan Obligasi FR0097.Obligasi pemerintah seri FR0097 ini menawarkan kupon tahunan 7,125 persen dan Yield to Maturity (YTM) 6,9 persen, sedikit di atas rata-rata obligasi negara 10 tahun (6,8 persen).Jatuh tempo obligasi ini adalah pada 15 Juni 2043. Diversifikasi aset menjadi langkah penting bagi masyarakat yang ingin menjaga nilai investasinya. Di tengah ketidakpastian global dan pasar saham yang fluktuatif, obligasi menjadi alternatif protektif yang semakin diminati.







