Tutup
News

Gelombang PHK Besar-besaran Terjadi Lagi, AI Jadi Biang Kerok

609
×

Gelombang PHK Besar-besaran Terjadi Lagi, AI Jadi Biang Kerok

Sebarkan artikel ini
gelombang-phk-besar-besaran-terjadi-lagi,-ai-jadi-biang-kerok
Gelombang PHK Besar-besaran Terjadi Lagi, AI Jadi Biang Kerok

Jakarta – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat mencapai titik tertinggi sejak pandemi COVID-19, memicu kekhawatiran akan perubahan lanskap pekerjaan.Sektor teknologi dan pekerja kantoran menjadi yang paling terpukul akibat fenomena ini, dengan kecerdasan buatan (AI) disebut-sebut sebagai faktor utama.

Laporan dari firma konsultan karier Challenger, Gray & Christmas, yang dirilis Minggu (10/8/2025), menunjukkan bahwa angka PHK di AS melonjak 140 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih dari 800.000 pekerja kehilangan pekerjaan dalam tujuh bulan pertama tahun 2025. Pada Juli 2025, perusahaan-perusahaan di AS telah memangkas 62.075 pekerjaan, meningkat signifikan dibandingkan 25.885 pada bulan yang sama tahun lalu. jika dibandingkan dengan Juni 2025, terjadi lonjakan sebesar 29 persen dari 47.999 PHK.

Beberapa perusahaan seperti Procter & Gamble mengaitkan PHK dengan restrukturisasi, otomatisasi, dan digitalisasi. Namun, para analis berpendapat bahwa AI dan dampak kebijakan tarif perdagangan era Trump menjadi penyebab utama krisis pekerjaan ini.

Andrew Challenger, penulis laporan dan pakar ketenagakerjaan dari Challenger, Gray & Christmas, mengungkapkan bahwa AI disebut sebagai penyebab lebih dari 10.000 PHK bulan lalu. “Sementara kekhawatiran soal tarif berdampak pada hampir 6.000 pekerjaan sepanjang tahun ini,” katanya.

Industri teknologi menjadi sektor yang paling terdampak, dengan 89.251 PHK terjadi dalam tujuh bulan pertama 2025. Laporan tersebut menyebutkan bahwa industri ini tengah mengalami perombakan besar karena kemajuan AI serta ketidakpastian terkait visa kerja.

Amazon, salah satu perusahaan teknologi besar, mengambil langkah efisiensi agresif. CEO Amazon, Andy Jassy, menyatakan bahwa beberapa peran akan menjadi usang karena otomatisasi. “Saat kami mengimplementasikan lebih banyak AI generatif dan agen digital, itu akan mengubah cara kerja kami,” ujarnya dalam memo internal kepada karyawan.

Amazon juga mengumumkan rencana investasi besar-besaran senilai $100 miliar untuk pembangunan pusat data yang menjadi tulang punggung teknologi AI. Selain itu, mereka menggelontorkan miliaran dolar ke startup AI Anthropic, yang CEO-nya memperingatkan bahwa AI bisa “menghapus setengah dari seluruh pekerjaan white-collar level pemula.”

CEO Ford Motor, Jim Farley, juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Ia menyatakan bahwa AI akan menggantikan secara harfiah setengah dari seluruh pekerja white-collar di Amerika Serikat.

Perusahaan semikonduktor raksasa, Intel, mengumumkan akan memangkas 25.000 posisi kerja pada tahun 2025, menjadi putaran kedua dari PHK besar mereka dalam dua tahun terakhir.

Microsoft mengonfirmasi akan memangkas sekitar 4 persen dari total tenaga kerja globalnya, atau setara 9.000 karyawan di berbagai divisi dan lokasi, demi mengalihkan lebih banyak sumber daya ke sektor AI.

Fenomena ini menandai perubahan signifikan dalam dinamika pasar kerja AS. Data menunjukkan bahwa pria berusia 22 hingga 27 tahun dengan gelar sarjana kini mengalami tingkat pengangguran lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Di tengah gempuran teknologi dan efisiensi berbasis AI, adaptasi dan peningkatan keterampilan menjadi keharusan agar tenaga kerja tetap relevan dan tidak tersingkir dalam transformasi digital.