Tutup
NewsTeknologi

Gemini Google Ungkap Fakta Baru, Chatbot AI Menyesatkan?

182
×

Gemini Google Ungkap Fakta Baru, Chatbot AI Menyesatkan?

Sebarkan artikel ini
4-chatbot-ai-yang-menyesatkan,-gemini-google-paling-parah
4 Chatbot AI yang Menyesatkan, Gemini Google Paling Parah

jakarta – Asisten kecerdasan buatan (AI) populer seperti ChatGPT,Copilot,Gemini,dan Perplexity AI ternyata kerap memberikan informasi yang menyesatkan. Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru.

Dalam 45 persen kasus, chatbot-chatbot tersebut menyampaikan informasi yang tidak akurat, terlepas dari bahasa maupun wilayah.

Temuan ini didasarkan pada evaluasi yang dilakukan oleh jurnalis dari berbagai media publik, termasuk BBC dan NPR.

Para jurnalis menguji akurasi,sumber informasi,konteks,kemampuan menyampaikan opini,dan kemampuan membedakan fakta dari opini pada jawaban yang diberikan oleh keempat chatbot tersebut.

Hasilnya, hampir separuh dari seluruh jawaban mengandung setidaknya satu masalah serius.

Sebanyak 31 persen jawaban bermasalah dalam hal sumber informasi, dan 20 persen mengandung kesalahan fakta yang signifikan.

Salah satu contoh kesalahan faktual yang ditemukan adalah klaim bahwa Olaf Scholz masih menjabat sebagai Kanselir Jerman, padahal Friedrich Merz telah menggantikannya sebulan sebelumnya.

Kesalahan lain termasuk menyebut Jens stoltenberg masih sebagai Sekretaris Jenderal NATO, padahal Mark Rutte sudah menjabat posisi tersebut.

Wakil Direktur Jenderal European Broadcasting Union (EBU), Jean Philip De Tender, yang memimpin studi ini, menyatakan kekhawatirannya.

“penelitian ini menunjukkan dengan jelas bahwa kesalahan-kesalahan tersebut bukanlah kejadian yang terisolasi,” ujarnya.

Menurutnya, masalah ini bersifat sistemik, lintas negara, dan multibahasa, serta mengancam kepercayaan publik.

“Ketika masyarakat tidak tahu apa yang bisa dipercaya, pada akhirnya mereka tidak mempercayai apapun. Itu bisa melemahkan partisipasi demokratis,” jelasnya.Laporan Digital News Report 2025 dari Reuters Institute menunjukkan bahwa 7 persen pengguna berita online mengandalkan chatbot AI. Angka ini meningkat menjadi 15 persen di kalangan usia di bawah 25 tahun.Studi ini merupakan kelanjutan dari penelitian serupa yang dilakukan BBC pada Februari 2025, yang menemukan bahwa lebih dari separuh jawaban AI yang diperiksa mengandung masalah serius.