Tutup
EkonomiNewsPendidikan

Gen Z Kehilangan Arah, Perusahaan Berinvestasi Latih Ulang

210
×

Gen Z Kehilangan Arah, Perusahaan Berinvestasi Latih Ulang

Sebarkan artikel ini
mengapa-gen-z-makin-sulit-dapat-kerja-di-2026?
Mengapa Gen Z Makin Sulit Dapat Kerja di 2026?

Jakarta – Pandemi Covid-19 berdampak besar pada Generasi Z (Gen Z). Mereka kehilangan pengalaman belajar tatap muka dan interaksi sosial.

Kondisi ini memicu fenomena NEET (Not in Education, Employment, and Training).

Hampir satu juta anak muda usia 16-24 tahun tidak bersekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan pada akhir 2025.

Data menunjukkan hampir 600.000 orang bahkan tidak aktif mencari pekerjaan.

Laporan Office for National Statistics (ONS) mengungkap generasi muda kesulitan dapat pekerjaan pertama.

Kurangnya kesiapan memasuki dunia kerja menjadi salah satu penyebabnya. pandemi menghambat pengembangan keterampilan sosial dan pengalaman praktis.

Chief Impact Officer Shaw Trust, Julie Leonard, menyoroti dampak pembelajaran daring dan lockdown 2020. Hal ini menciptakan kesenjangan sosial bagi Gen Z,terutama usia 20-24 tahun.

“Banyak anak muda kehilangan tahun-tahun penting di bangku pendidikan tatap muka,” kata Leonard, dikutip dari CNBC, Selasa (13/1/2026).

Akibatnya, mereka kehilangan pengalaman kerja, kesiapan bekerja, dan soft skill. Mereka kini memasuki pasar kerja yang sangat sulit.

Padahal, soft skill seperti kemampuan memimpin tim, bekerja sama, dan mengikuti instruksi sangat penting.

Leonard menekankan banyak generasi muda tidak mendapat kesempatan keluar dari zona nyaman.Termasuk berbicara dengan orang asing atau datang tepat waktu.

KPMG dan PwC menemukan pekerja muda kekurangan etiket di tempat kerja, seperti komunikasi dan kolaborasi.

PwC menawarkan pelatihan resiliensi bagi lulusan baru pada 2025. KPMG mengadakan sesi soft skill sejak 2023,termasuk kemampuan bekerja sama dan presentasi.

Leonard menyarankan generasi muda kembali menggunakan pendekatan tradisional mencari pekerjaan. Jangan hanya kirim CV yang mungkin ditolak AI.

“buat CV, datangi langsung toko-toko, ajak bicara manajer. Itu membangun resiliensi dan kepercayaan diri,” pungkasnya.