Tutup
EkonomiNews

Geopolitik Memanas, BI Antisipasi Inflasi dan Rupiah

97
×

Geopolitik Memanas, BI Antisipasi Inflasi dan Rupiah

Sebarkan artikel ini
bi-waspadai-melonjaknya-inflasi-terdorong-naiknya-harga-minyak-dunia
BI Waspadai Melonjaknya Inflasi Terdorong Naiknya Harga Minyak Dunia

Jakarta – Bank Indonesia (BI) meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak ketegangan geopolitik global, khususnya konflik Iran-AS-israel, terhadap ekonomi Indonesia. Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik ini berpotensi memicu inflasi.

BI akan terus memantau perkembangan harga komoditas, pasar keuangan, dan perdagangan global. Hal ini disampaikan Deputi Gubernur BI, Aida S. Budiman,Selasa (3/3/2026).

“Kita sudah mulai melihat bagaimana perkembangan harga minyak, harga emas, dan nanti juga penting untuk melihat harga pangan,” kata Aida.

Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan produksi, termasuk pangan, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi.

Bank sentral juga mencermati kondisi pasar keuangan yang dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah. Hal ini berpotensi berdampak pada harga barang impor dan stabilitas harga di dalam negeri.

Perlambatan perdagangan global juga menjadi perhatian BI karena dapat menekan pertumbuhan ekonomi serta mempengaruhi permintaan dan inflasi.

“Komitmen BI tetap menjaga stabilitas. Dan kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga inflasi,” tegas Aida.

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Februari 2026 tercatat 4,76 persen secara tahunan (yoy). Kenaikan ini dipengaruhi oleh low base effect akibat kebijakan diskon tarif listrik tahun sebelumnya.

Kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices/AP) mencatatkan inflasi 12,66 persen pada Februari 2026, melonjak dibandingkan deflasi minus 9,02 persen pada Februari tahun sebelumnya.

Meski demikian,BI optimistis prospek ekonomi domestik pada 2026 tetap terjaga. Momentum pertumbuhan ekonomi, khususnya pada kuartal I, perlu dimanfaatkan secara optimal karena adanya Hari besar Keagamaan nasional (HBKN) yang mendorong konsumsi masyarakat.

Konsumsi pemerintah juga diperkirakan meningkat seiring dengan komitmen pemerintah untuk merealisasikan belanja pada kuartal I.

“Kalau itu terjadi, tentunya konsumsi daripada swasta akan mengalami peningkatan dan tentunya ini mengakibatkan permintaan domestik mengalami peningkatan dan juga produksi-produksi lainnya,” pungkas Aida.