Jakarta – Google melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan pekerja kontrak yang berperan penting dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI). Langkah ini memicu konflik terkait upah dan kondisi kerja.
Lebih dari 200 kontraktor yang bertugas mengevaluasi dan memperbaiki produk AI Google, termasuk gemini dan AI Overviews, diberhentikan secara mendadak dalam dua gelombang PHK bulan lalu.
para pekerja menuding PHK ini sebagai upaya perusahaan untuk membungkam protes terkait upah rendah, kondisi kerja yang tidak pasti, dan upaya untuk membentuk serikat pekerja.
salah satu pekerja yang terkena PHK, Andrew Lauzon, mengaku menerima email pemutusan kerja pada 15 Agustus. “Saya bertanya alasannya, dan mereka bilang pengurangan proyek,” ujarnya seperti dikutip dari Wired.
Dalam beberapa tahun terakhir, Google mengalihdayakan pekerjaan rating AI kepada ribuan kontraktor melalui perusahaan seperti GlobalLogic milik Hitachi. Tugas mereka meliputi evaluasi, pengeditan, atau penulisan ulang respons chatbot Gemini agar terdengar lebih manusiawi.
Para pekerja khawatir sistem AI justru sedang dilatih untuk menggantikan peran mereka. Dokumen internal menunjukkan GlobalLogic menggunakan penilaian manusia untuk melatih sistem Google AI yang nantinya dapat melakukan penilaian secara otomatis.
Selain itu, pekerja juga menghadapi kebijakan baru yang memberatkan, termasuk kewajiban kembali ke kantor di austin, Texas, yang berdampak pada mereka yang memiliki keterbatasan finansial, disabilitas, atau tanggung jawab keluarga.
Delapan pekerja yang diwawancarai mengaku digaji rendah, tanpa kepastian kerja, dan dalam kondisi yang tidak mendukung. Dua di antaranya telah mengajukan pengaduan ke National Labor Relations Board, menuding dipecat secara tidak adil.
Google menegaskan bahwa para pekerja tersebut bukan karyawan Alphabet.”Individu-individu ini adalah karyawan GlobalLogic atau subkontraktornya,bukan Alphabet,” kata juru bicara Google,courtenay Mencini.
“Sebagai pemberi kerja, GlobalLogic dan subkontraktornya bertanggung jawab atas pekerjaan dan kondisi kerja karyawan mereka. Kami memandang serius hubungan dengan pemasok kami dan mengaudit perusahaan yang bekerja sama dengan kami berdasarkan Kode Etik Pemasok kami,” tambahnya.
Upaya pekerja untuk berserikat juga disebut mendapat tekanan. Ricardo Levario, salah satu super rater, mengatakan akses ke saluran komunikasi internal dibatasi dan beberapa pekerja dipecat karena dianggap melanggar kebijakan.
Situasi serupa juga terjadi di berbagai belahan dunia. Di Kenya,sekelompok pekerja label data membentuk Data Labelers Association untuk memperjuangkan upah lebih baik dan dukungan kesehatan mental.







