Padang – Kedatangan jemaah haji asal Indonesia di tanah air sejak 11 Juni lalu, disambut dengan sapaan “Ahlan Wasyahlan Ya Alhajj” dan sebutan “Hajjiiii, Hajji, Hajji…”.Sapaan ini mengingatkan kembali suasana di tanah suci Mekah dan Madinah.
Sapaan “Hajji” sendiri, menurut pantauan, seringkali terdengar di telinga jemaah haji dan umrah di Mekah dan Madinah. Petugas kebersihan dan keamanan Masjidil haram dan Masjid Nabawi kerap kali menyuarakan sapaan tersebut untuk mengingatkan jemaah agar bergeser dan memberi ruang saat membersihkan lantai masjid, atau agar jemaah lebih tertib.
Pada tahun 2025, jemaah haji Indonesia menjadi bagian dari 1.673.230 jemaah dari 171 negara.Otoritas Umum Statistik Arab Saudi mencatat, dari jumlah tersebut, 877.841 orang adalah jemaah laki-laki dan 795.389 jemaah perempuan.
Indonesia sendiri mendapatkan kuota haji 2025 sebanyak 221.000 jemaah. Dari jumlah tersebut, 203.320 orang adalah jemaah haji reguler yang dilayani Kementerian Agama, sisanya adalah haji khusus dan haji plus yang diakomodasi KBIH non Kemenag. Sebanyak 4.613 jemaah haji asal Sumatera Barat dan 1.636 orang dari Bengkulu berangkat dan tiba melalui Debarkasi Padang via Bandara Internasional Minang (BIM),kecuali lima jemaah yang wafat di tanah suci.
Setibanya di tanah air, jemaah haji tampak berbeda. mereka turun dari pesawat dengan mengenakan jubah dan gamis, didominasi warna putih, sementara jemaah perempuan berbusana syar’i warna hitam. Jemaah laki-laki melengkapi penampilan dengan sorban, ada yang dililitkan di leher, ada pula yang disandang di bahu. Kepala mereka umumnya botak setelah tahallul, dan aroma parfum khas Mekah dan Madinah menyertai mereka. Koper besar berisi oleh-oleh seperti sajadah, pakaian, hingga parfum, siap dibagikan kepada keluarga yang telah mendoakan keselamatan mereka. Perbedaan mencolok terlihat dibandingkan saat keberangkatan, di mana jemaah tampil sederhana dengan kemeja, baju koko, atau peci hitam bagi laki-laki, dan hijab standar bagi perempuan. Namun, setelah menunaikan ibadah haji, penampilan mereka berubah.Bukan hanya busana yang berbeda,wajah jemaah haji juga tampak lebih berseri dan bercahaya.Banyak yang meyakini bahwa pancaran wajah tersebut adalah energi spiritual yang diperoleh selama 40 hari beribadah di Mekah dan Madinah. Mereka pun langsung dipanggil “Pak Hajji” dan “bu Hajjah”, atau bahkan “Haji” dan “Hajjah” saja, tergantung logat masing-masing.
Secara harfiah, “hajji” berarti “perjalanan” atau “berniat melakukan perjalanan” ke Baitullah, rumah Allah, yaitu ka’bah di mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Jemaah haji yang ke Madinah melaksanakan amalan sunnah dengan mengikuti salat wajib berjemaah 40 waktu berturut-turut selama 8 hari. Kemudian,mereka bertolak ke Mekah,mengenakan pakaian ihram,miqat di Bir Ali,dan langsung tawaf serta Sa’i. Ibadah puncak haji dilakukan selama 5 hari, mulai tanggal 8 sampai 13 zulhijjah, dengan wukuf di arafah, mabid di Muzdalifah, melontar jumrah, dan tahallul. Jika Allah menerima seluruh rangkaian ibadah tersebut, maka itulah yang disebut haji mabrur (laki-laki) atau mabrurah (perempuan).
Secara syar’i,haji dianggap sah jika seseorang telah melaksanakan semua rukun haji dengan tertib. Namun, tidak ada manusia yang bisa memastikan apakah haji yang sah secara syar’i itu diterima oleh Allah, kecuali Nabi Muhammad Salallahuwalaihiwassalam.
Terkait hal ini, terdapat kisah mashur yang dinukilkan dalam kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah Al Qulyubi. Dikisahkan, seorang ulama Sufi bernama Abdullah bin Mubarak bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit setelah selesai menjalani ritual ibadah haji. dalam percakapan kedua malaikat itu, Abdullah bin Mubarrak mendapat informasi bahwa dari 600 ribu jemaah haji saat itu, termasuk dirinya, tidak ada seorang pun yang diterima Allah, kecuali Ali bin Muwaffaq, seorang tukang sol sepatu di Damaskus yang tidak melaksanakan ibadah haji, namun hajinya diterima Allah.
Abdullah yang menangis setelah terbangun berusaha menemui Ali bin muwaffaq di Damaskus. Ternyata, Ali bin muwaffaq telah menabung selama 40 tahun untuk pergi ke mekah, namun sehari sebelum keberangkatannya, biaya hajinya disedekahkan kepada tetangganya yang kelaparan, sehingga ia tidak bisa berangkat.
Kisah ini memberikan pelajaran bahwa seseorang tidak bisa langsung berbangga dan merasa bahwa ibadah hajinya pasti diterima Allah hanya karena telah datang jauh-jauh dari Indonesia dan menghabiskan uang puluhan juta. Namun, kisah ini juga tidak membuat umat Islam jera dan tidak mau menunaikan rukun islam kelima.
Oleh karena itu,seringkali kita mendengar ucapan bahwa diterima atau tidaknya ibadah haji adalah urusan Allah. Tugas manusia adalah memenuhi rukun dan syarat, berdoa sebanyak-banyaknya, dan bertaubat terus-menerus. Jika terjadi perubahan signifikan dalam hal ibadah syar’i dari lalai menjadi taat, dari taat makin taat lagi, serta terjadi perubahan akhlak dan perilaku dari kurang baik menjadi baik, maka itu adalah tanda-tanda ibadah hajinya diterima Allah.
Terkait panggilan “Haji” atau “Hajjah”,hal itu sebenarnya tidaklah penting. Tidak perlu meminta atau memaksa orang untuk memanggil kita dengan sebutan tersebut, dan jangan pula marah jika orang tidak memanggil kita “Haji” atau “Hajjah”.Panggilan “Pak Haji” atau “Bu Hajjah” seharusnya menjadi







