Tutup
EkonomiEnergiInvestasiNews

Harga Minyak Melesat, Ancaman Resesi Global Mengintai?

192
×

Harga Minyak Melesat, Ancaman Resesi Global Mengintai?

Sebarkan artikel ini
harga-minyak-dunia-tembus-us$112,-analis-peringatkan-pertanda-buruk-bagi-ekonomi-global
Harga Minyak Dunia Tembus US$112, Analis Peringatkan Pertanda Buruk Bagi Ekonomi Global

Jakarta – Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus level US$110 per barel pada Senin (23/3/2026). Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi ini dinilai menjadi sinyal buruk bagi perekonomian global.Harga minyak mentah Brent tercatat diperdagangkan di level US$112,85 per barel atau sekitar Rp 1.912.694,65 (kurs Rp 16.950 per dolar AS).

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di harga US$98,91 atau Rp 1.676.425,59 per barel.

Eskalasi konflik antara AS dan Israel dengan Iran semakin meluas ke wilayah strategis di Asia Barat. Situasi ini bertransformasi menjadi ancaman ekonomi global, dengan harga minyak sebagai pusat tekanan utama.

Kekhawatiran pasar tidak hanya soal kenaikan harga, tetapi juga potensi gangguan pasokan energi.

selat Hormuz, jalur vital yang dilalui hampir 20 persen pasokan minyak dunia, kini berada dalam tekanan.

Pergerakan kapal tanker melambat, biaya asuransi melonjak, dan serangan berulang membuat jalur distribusi energi ini menjadi kawasan berisiko tinggi.

Presiden Vayana, Kaushal Sampat, menilai eskalasi konflik ini telah menyentuh sektor energi secara langsung dan bukan sekadar gangguan jangka pendek.

“Ini bukan hanya masalah sementara, tetapi kombinasi antara gangguan langsung dan risiko struktural yang mulai muncul,” ujarnya.Estimasi pasar menyebutkan sekitar 8 hingga 10 juta barel per hari pasokan minyak berpotensi terdampak jika gangguan terus berlanjut.

Selat Hormuz sendiri mengangkut hampir 20 juta barel per hari, sehingga gangguan kecil pun bisa berdampak global.

Pasar saham menjadi bergejolak, mata uang melemah, dan imbal hasil obligasi menyesuaikan dengan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi.

Investor pun mulai menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi seiring melonjaknya biaya energi.

Chief Research Officer Master Capital Services, Dr. Ravi Singh, mengatakan tekanan sudah terlihat di pasar keuangan dunia.

“pelemahan terbaru di pasar saham dipicu oleh eskalasi konflik timur Tengah, kenaikan harga minyak, dan aksi jual investor asing,” jelasnya.

Risiko yang lebih besar kini mengarah pada kemungkinan resesi global jika harga minyak terus naik. Vijayakumar mengingatkan, level harga tertentu bisa menjadi titik kritis.