Tutup
News

Harga Minyak Naik karena Perang Iran–Israel, CORE Dorong Transisi EBT

204
×

Harga Minyak Naik karena Perang Iran–Israel, CORE Dorong Transisi EBT

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Konflik yang berkecamuk antara Iran dan Israel telah memicu lonjakan harga minyak dunia, mendorong seruan untuk percepatan transisi energi di Indonesia. Mohammad Faisal, Direktur Eksekutif Centre of Reform on Economics (CORE), menilai situasi ini sebagai momentum krusial untuk beralih ke energi baru dan terbarukan (EBT).

Menurut Faisal,harga energi fosil yang semakin mahal akan mengurangi daya saingnya.”Ini semestinya dimanfaatkan untuk mendorong pengembangan energi terbarukan,” ujarnya,Senin (16/6/2025). Ia menambahkan bahwa selama ini, pengembangan EBT terhambat oleh harga energi fosil yang relatif murah, sehingga energi terbarukan kurang menarik secara ekonomi. Faisal menekankan perlunya pemerintah memanfaatkan lonjakan harga minyak global untuk mendorong proyek-proyek EBT. “Fenomena ini semestinya menjadi dorongan untuk beralih ke energi terbarukan, menjadi stimulus,” katanya.Faisal juga menyoroti potensi dampak kenaikan harga minyak terhadap perekonomian Indonesia, termasuk kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) domestik, terutama jika harga minyak dunia menembus angka 80 dolar AS per barel. “Biasanya berdampak bukan hanya ke ongkos transportasi, melainkan ke harga barang-barang lain, terutama bahan pangan,” jelasnya.

Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa asumsi dasar ekonomi makro APBN 2025 menetapkan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar 82 dolar AS per barel. Sebagai perbandingan, ICP rata-rata pada Mei 2025 berada di angka 65,29 dolar AS per barel.saat ini, harga minyak dunia berada di kisaran 72-74 dolar AS per barel, masih di bawah asumsi ICP dalam APBN 2025.

Kenaikan harga minyak global ini dipicu oleh konflik bersenjata antara Iran dan Israel.Pada Jumat (13/6), Pasukan Pertahanan Israel (IDF) meluncurkan operasi militer “Operation Rising Lion” dengan menyerang target militer dan fasilitas program nuklir Iran. Serangan udara Israel dilakukan dalam beberapa gelombang di berbagai wilayah Iran, termasuk Ibu Kota Tehran. dalam serangan tersebut, sejumlah pejabat militer tinggi Iran dilaporkan tewas, termasuk Kepala Staf Umum Militer Iran Jenderal Mohammad Bagheri, beberapa komandan Garda Revolusi, serta sejumlah ilmuwan nuklir.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan “Operation True Promise 3”, yang menargetkan fasilitas militer milik Israel. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan 128 orang tewas dan 900 lainnya cedera akibat serangan Israel sejak Jumat. Sementara itu, otoritas Israel menyebut sedikitnya 13 orang tewas dan lebih dari 370 orang lainnya cedera akibat serangan rudal Iran.