Tutup
News

Industri Keuangan RI Hadapi Risiko Tekanan DPK Semester II

522
×

Industri Keuangan RI Hadapi Risiko Tekanan DPK Semester II

Sebarkan artikel ini
dihantui-ketidakpastian-ekonomi-global,-industri-keuangan-ri-berisiko-alami-ini-semester-ii-2025
Dihantui Ketidakpastian Ekonomi Global, Industri Keuangan RI Berisiko Alami Ini Semester II-2025

Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mendesak pemerintah untuk mencari pasar baru bagi sektor industri keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hal ini disampaikan seiring dengan tantangan yang dihadapi industri keuangan akibat kebijakan tarif dagang Amerika serikat.

wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kadin, aviliani, menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan pada impor. “Mencari market baru itu pasti. Peran duta besar kora harus menjadi negoisator yang ditempatkan Indonesia. Kita punya potensi perkebunan dan pertambangan jadi harus mencari market baru.Bicara tentang lain kita harus kurangi impor,” pungkas Aviliani, Rabu (23/7/2025).

Sebelumnya, Head of Corporate Banking UOB Indonesia, Edwin Kadir, mengungkapkan bahwa gejolak ekonomi global yang dipicu oleh tarif dagang AS dapat memengaruhi Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan. “DPK mengalami sedikit challenges dan sisi likuiditas. Karena Indonesia ini relay komoditas begitu harga komoditas turun seperti nikel otomatis pemasukan dolar AS di perbankan turun,” ujarnya dalam diskusi UOB bertajuk ‘Navigating Regulation Shift and Market Uncertainties in Indonesia and Asean’ di Jakarta, Rabu (23/7/2025).

Kadir juga menyoroti tantangan yang dihadapi Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan.Ia menjelaskan, LDR perbankan BUKU IV dan BUMN sempat menyentuh angka 100 persen, yang berpotensi mengganggu likuiditas. “LDR perbankan bank buku 4 dan bumn sempat menyentuh 100 persen untuk ldr 100 persen karena likuiditas bergantung pada komoditas,” jelasnya.Menanggapi situasi ini, perbankan berharap pemerintah dapat mengambil kebijakan yang tidak hanya berfokus pada industri komoditas, tetapi juga mendorong pengembangan industri bernilai tambah. “Untuk itu kita perlu membangkit dan mendorong valued industri,” imbuhnya.

Kadir menambahkan, UOB Indonesia mendukung penuh upaya pemerintah dalam mengatasi tekanan ekonomi yang berasal dari geopolitik maupun tarif dagang AS. “Jadi sisi perbankan kita selalu mendukung kebijakan yang disampaikan pemerintah, kita melihat disiplin cash flow financial disiplin itu sangat penting. Kira memastikan debitur dan klien menggunakan resources hati-hati dan prudent dan kita membantu supply chain,” tegasnya.