Tutup
Perbankan

Intip Pengelolaan Lingkungan Harita Nickel di Lokasi Tambang Pulau Obi

222
×

Intip Pengelolaan Lingkungan Harita Nickel di Lokasi Tambang Pulau Obi

Sebarkan artikel ini
intip-pengelolaan-lingkungan-harita-nickel-di-lokasi-tambang-pulau-obi
Intip Pengelolaan Lingkungan Harita Nickel di Lokasi Tambang Pulau Obi

Pulau Obi – PT Trimegah Bangun persada Tbk (Harita Nickel) menegaskan komitmennya terhadap praktik pertambangan berkelanjutan di Pulau Obi, Halmahera Selatan, melalui implementasi sistem manajemen air tambang. Upaya ini diwujudkan dengan pembangunan kolam-kolam besar yang difungsikan sebagai sediment pond atau kolam pengendapan.

Kolam-kolam berbentuk persegi panjang dengan air berwarna coklat tersebut, menurut keterangan perusahaan, memiliki peran sentral dalam pengelolaan air pembuangan bekas kegiatan tambang. Air tersebut diproses sedemikian rupa agar kembali ke kadar semula sesuai dengan ketentuan lingkungan yang berlaku sebelum dialirkan kembali ke laut.

Muhamad Riftadi Hidayat, Senior Mine hydrology Engineer Harita Nickel, menjelaskan bahwa sediment pond saat ini tersebar di beberapa lokasi di areal pertambangan dengan luas yang bervariasi. Total luas kolam pengendapan mencapai 100 hektare, dengan kolam terluas mencapai 43 hektare.

“Kita harus mengembalikan lagi ke alam setelah apa yang diberikan oleh alam,” ujarnya kepada media pada Jumat (13/6/2025) di Pulau Obi, menekankan pentingnya pengembalian kualitas air. Ia menambahkan bahwa air jernih yang masuk ke dalam tambang harus dikembalikan kejernihannya melalui kolam pengendapan, yang berfungsi memfilterasi air keruh.

Secara sederhana,kolam pengendapan ini digunakan untuk memisahkan partikel padat (sedimen) dari air yang digunakan dalam proses pengolahan nikel. Proses penjernihan air limbah tambang ini merupakan kewajiban perusahaan sesuai dengan ketentuan pemerintah yang berlaku.

Riftadi menjelaskan bahwa keberadaan sediment pond memiliki dua fungsi utama. Pertama, menjaga keselamatan operasional tambang terkait dengan curah hujan tinggi di Pulau Obi. “Tantangan terbesarnya adalah air hujan. Kalau limpahan air itu tidak kita kendalikan, bisa masuk tambang dan mengganggu operasi, bahkan membahayakan keselamatan,” tegasnya.

Fungsi kedua, lanjutnya, adalah menjaga lingkungan sekitar pertambangan.air yang mengalir ke laut harus sesuai dengan baku mutu yang diwajibkan pemerintah, sehingga tidak mengganggu wilayah sekitar.