Tutup
News

Israel tak Henti Dirudal Iran, Saham Emiten Terdampak Boikot Kompak Rontok

273
×

Israel tak Henti Dirudal Iran, Saham Emiten Terdampak Boikot Kompak Rontok

Sebarkan artikel ini
israel-tak-henti-dirudal-iran,-saham-emiten-terdampak-boikot-kompak-rontok
Israel tak Henti Dirudal Iran, Saham Emiten Terdampak Boikot Kompak Rontok

Jakarta – Pasar saham Indonesia menunjukkan pelemahan pada perdagangan Senin (16/6/2025), dipicu oleh sentimen negatif dari eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan dampak aksi boikot terhadap produk yang diasosiasikan dengan Israel.Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan sebagai respons terhadap sentimen tersebut.

Beberapa emiten yang terpengaruh oleh aksi boikot, termasuk PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), mencatatkan penurunan harga saham yang cukup dalam. Saham FAST, pemegang lisensi merek KFC, mengalami penurunan hingga mencapai Rp 308 per lembar saham, atau turun sebesar 5,52 persen (38 poin) dibandingkan hari sebelumnya. Sementara itu, saham UNVR juga mengalami penurunan sebesar 3,85 persen (60 poin) ke level Rp 1.500 per lembar saham.

Secara keseluruhan, IHSG ditutup melemah sebesar 48,48 poin atau 0,68 persen, berada pada level 7.117,59. Indeks LQ45, yang terdiri dari 45 saham unggulan, juga mengalami penurunan sebesar 6,82 poin atau 0,85 persen, mencapai posisi 794,99.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyatakan bahwa pasar saat ini sedang mencermati sejumlah faktor penting. “Pasar mencermati rilis data ekonomi China, dan juga memantau meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” jelasnya.

Kekhawatiran pelaku pasar terhadap konflik antara Israel dan Iran semakin meningkat, terutama setelah kedua negara terlibat dalam serangan balasan selama tiga hari berturut-turut pada hari Minggu. Kedua negara juga telah menegaskan komitmen mereka untuk melanjutkan tindakan pembalasan.

Serangan yang berlanjut selama akhir pekan menargetkan infrastruktur energi, yang mengakibatkan kenaikan harga minyak dunia dan menambah ketidakpastian di pasar global. Selain itu, Iran juga mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur vital untuk pengiriman minyak global.