Tutup
Perbankan

Jaga Pasokan Biomassa, PLN EPI Gandeng Warga Manfaatkan Lahan Kritis

262
×

Jaga Pasokan Biomassa, PLN EPI Gandeng Warga Manfaatkan Lahan Kritis

Sebarkan artikel ini
jaga-pasokan-biomassa,-pln-epi-gandeng-warga-manfaatkan-lahan-kritis
Jaga Pasokan Biomassa, PLN EPI Gandeng Warga Manfaatkan Lahan Kritis

Gunungkidul – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) tengah berupaya memperkuat pasokan biomassa melalui program pemberdayaan masyarakat desa dengan memanfaatkan lahan kritis.Inisiatif ini dilakukan sebagai dukungan terhadap program cofiring yang bertujuan mengurangi penggunaan batu bara di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Menurut Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, program ini merupakan implementasi komitmen perusahaan terhadap prinsip Environmental, social, dan governance (ESG) dalam mewujudkan pembangunan ekonomi berkelanjutan dan mencapai Sustainable Growth Goals (SDGs). “Biomassa bukan sekadar cofiring, tapi juga membuka rantai nilai baru di desa,” ujarnya pada Minggu (8/6/2025). Ia menambahkan, “PLN EPI melihat potensi besar untuk menjadikan ini model kolaborasi antara energi dan pemberdayaan masyarakat.”

Dalam rangka memperkuat pasokan biomassa yang memanfaatkan tumbuhan energi, PLN EPI menyelenggarakan pelatihan perawatan dan monitoring pohon multifungsi di Desa Berdaya Energi Gunung Kidul, yang berlokasi di Kalurahan Gombang dan Karangasem, Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Pelatihan ini mencakup materi teori dan praktik lapangan, termasuk pemupukan, pemangkasan, serta monitoring pertumbuhan tanaman. Kegiatan ini didampingi oleh tenaga ahli dan dirancang agar peserta memahami Standar Operasional Prosedur (SOP) perawatan pohon secara berkelanjutan.

PT PLN (Persero) melalui sub holding PT PLN Energi Primer Indonesia berencana mengubah 1,7 juta hektare dari 14 juta hektare lahan kritis yang tersebar di seluruh Indonesia menjadi lebih hijau dan produktif. Hal ini merupakan upaya pengembangan ekosistem biomassa berbasis pertanian terpadu. Mamit menjelaskan bahwa program ini adalah contoh integrasi nyata antara sektor energi, konservasi lingkungan, dan penguatan ekonomi desa. Dengan pendekatan kolaboratif, PLN EPI berharap model ini dapat direplikasi di wilayah lain, terutama di daerah dengan potensi lahan non produktif.

Dalam menjalankan program ini, PLN EPI bekerja sama dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tani Mulya (Kalurahan Gombang) dan Asem Mulya (Kalurahan karangasem), yang sejak 2023 telah menanam lebih dari 175 ribu pohon multifungsi, termasuk Indigofera, di lahan Sultan Ground dan tanah kas desa. Tanaman ini tidak hanya berfungsi sebagai pakan ternak, tetapi juga sebagai bahan baku energi dan pewarna alami batik, membuka peluang ekonomi sirkular bagi warga.Program ini diikuti oleh 50 orang dan menjadi upaya peningkatan perekonomian rakyat.Ketua Bebadan pangresa Loka Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo, menegaskan bahwa pemanfaatan lahan Sultan Ground dan tanah khas desa untuk pertanian berkelanjutan merupakan komitmen Keraton sejak awal. “Arahan Ngarso Dalem jelas. Tanah-tanah ini harus membawa manfaat ekologis sekaligus ekonomi. Bahkan ke depan kami dorong agar bisa berkembang menjadi agro eduwisata,” jelasnya.

KRT Surya Satriyanto dari Kawedanan Panitikisma, Badan Keraton yang mengurusi pemanfaatan Sultan ground, menekankan bahwa tata kelola administratif yang rapi tetap menjadi syarat utama untuk perluasan program. Keraton mendorong setiap Kalurahan agar memiliki dokumen legal dalam pemanfaatan tanah termasuk penetapan zona dan perizinan formal.

Vice President Transisi Energi dan perubahan Iklim PLN, Anindita Satria Surya, menyatakan bahwa program ini telah berjalan selama dua tahun dan menunjukkan hasil signifikan. Lebih dari 175 ribu pohon multifungsi telah ditanam, termasuk tanaman Indigofera yang dinilai memiliki manfaat ganda. “Tanaman ini sudah mencapai tinggi rata-rata 4 meter dan siap untuk dipruning,” ungkapnya. Ia menambahkan, “Dulu warga sampai jual sapi demi kasih makan sapi. Sekarang pakan ternak mulai bisa dipenuhi sendiri. Ini transformasi.”

Selain untuk pakan ternak dan bahan bakar biomassa, Indigofera juga mulai dikembangkan sebagai bahan pewarna alami batik. “Satu tanaman bisa menghasilkan nilai ekonomi berlapis. Inilah bentuk ekonomi sirkular berbasis lokal yang kita dorong,” tambahnya.

PLN sebelumnya telah berhasil melakukan uji coba penggunaan 75 persen biomassa Woodchips (kepingan kayu) untuk bahan bakar pengganti batu bara (cofiring) di PLTU Bolok dengan kapasitas 2×16,5 Megawatt (MW) di Kupang,Nusa Tenggara Timur (NTT).