Tutup
News

Kearifan Lokal Aktif Memitigasi Risiko, Membangun Ketahanan Daerah

198
×

Kearifan Lokal Aktif Memitigasi Risiko, Membangun Ketahanan Daerah

Sebarkan artikel ini
penguatan-sistem-peringatan-dini,-mitigasi-berbasis-spasial-kearifan-lokal
Penguatan Sistem Peringatan Dini, Mitigasi Berbasis Spasial Kearifan Lokal

Padang – Sumatera Barat (Sumbar) perlu segera menerapkan mitigasi bencana berbasis spasial dan kearifan lokal. Hal ini penting mengingat cuaca ekstrem terus berulang di wilayah tersebut.

Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta, Dr. Haryani MT, menekankan pentingnya penguatan sistem peringatan dini.Haryani menjelaskan, interaksi antara hujan deras, topografi curam, dan perubahan lahan menjadi pemicu utama bencana seperti banjir, galodo (banjir bandang), dan longsor di Sumbar.

“Setiap tahun, pola ini cenderung berulang dengan tingkat keparahan yang bervariasi,” ujarnya.

Sumbar sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi karena kombinasi curah hujan tinggi, topografi bergunung, dan jaringan sungai yang berhulu di Bukit Barisan.

Kondisi ini menyebabkan banjir, galodo, longsor, dan cuaca ekstrem sering terjadi.Cuaca ekstrem di Sumbar ditandai dengan curah hujan tinggi, terutama saat musim hujan dan peralihan musim. Awan Cumulonimbus (CB) tumbuh cepat menyebabkan hujan badai, angin kencang, dan petir.

“Kondisi ini menyebabkan hujan berlangsung lama dalam intensitas tinggi (≥50-100 mm/hari), sehingga memicu limpasan air permukaan dan memuaskan kapasitas sungai,” jelasnya.

Banjir di Sumbar sering terjadi di dataran rendah dan bantaran sungai seperti di Padang, Pesisir Selatan, Dharmasraya, dan Agam, terutama di wilayah dengan drainase buruk atau sedimentasi sungai tinggi.

“Ciri umum banjir di sumbar,air naik cepat terutama pada sungai-sungai besar seperti Batang Kuranji,Batang arau,Batang Sinamar,dan Batang Lembang,” katanya.

Galodo (banjir bandang) adalah bencana khas Sumbar yang berasal dari hujan deras di hulu sungai, terutama di kawasan perbukitan, membawa material seperti batu, kerikil, kayu, dan lumpur.

“Untuk karakteristik galodo, terjadi secara tiba-tiba, debit naik mendadak. aliran sangat kuat dan membawa material besar,” jelasnya.

Galodo umumnya muncul di daerah aliran sungai berlereng curam seperti di Tanah Datar, Padang Pariaman, Agam, Padang Panjang, dan Solok.

Faktor pemicu lainnya adalah kerusakan vegetasi hulu, pembukaan lahan, serta erosi tebing sungai. Lereng vulkanik Gunung Marapi dan Singgalang yang rapuh ketika jenuh air juga menjadi penyebab.

Longsor di Sumbar terutama terjadi di lereng curam sepanjang Jalan Lintas Sumatera dan jalur pegunungan, serta daerah perkampungan di kaki bukit atau tebing sungai.

Penyebab utamanya adalah tanah jenuh air akibat hujan terus-menerus, struktur geologi berupa batuan vulkanik muda yang mudah lapuk, penggundulan hutan, dan aktivitas manusia di lereng tidak stabil.