Tutup
EkonomiPerbankan

Kelas Menengah di Persimpangan: dari Gaya Hidup ke Daya Bertahan

183
×

Kelas Menengah di Persimpangan: dari Gaya Hidup ke Daya Bertahan

Sebarkan artikel ini
kelas-menengah-di-persimpangan:-dari-gaya-hidup-ke-daya-bertahan
Kelas Menengah di Persimpangan: dari Gaya Hidup ke Daya Bertahan

Jakarta – Kelas menengah Indonesia kini dituntut makin bijak kelola keuangan di tengah tekanan ekonomi global. Konflik geopolitik dan inflasi memperparah situasi.

Ancaman resesi global membayangi. Perlambatan ekonomi di negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang menjadi penguatnya.

Bank Dunia (World Bank) bahkan memperingatkan risiko resesi global meningkat. Suku bunga tinggi, investasi yang melemah, dan pertumbuhan ekonomi negara berkembang yang melambat jadi penyebabnya.

Survei memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh lebih lambat pada kuartal II/2025, hanya 4,8 persen.

pelemahan daya beli, tekanan inflasi pangan, dan turunnya ekspektasi pertumbuhan konsumsi rumah tangga menjadi faktor utama perlambatan ini.

Menteri Keuangan berupaya meningkatkan ekonomi melalui belanja masyarakat. pemerintah menyalurkan Rp200 triliun dana ke Bank Himbara.

pakar ekonomi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Anisa Dwi Utami, menyebut kelas menengah mengalami “duck syndrome”. Mereka tampak tenang, namun berjuang keras di bawah tekanan finansial dan sosial.

Fenomena ini memicu perilaku “conscious spending” di kalangan milenial dan Gen Z. Pengeluaran kini lebih bijak dan terencana.

Survei Jakpat (2023) menunjukkan 68% milenial indonesia lebih memilih pengeluaran bermakna seperti kesehatan dan pengalaman daripada barang mewah.

Ketidakpastian ekonomi global, kenaikan biaya hidup, dan peningkatan literasi keuangan menjadi pendorong tren ini.

“Conscious spending” bukan berarti mengurangi pengeluaran secara drastis. ini lebih tentang menyesuaikan pola belanja dengan nilai dan tujuan finansial pribadi.

survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2022 oleh OJK menunjukkan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap pengelolaan keuangan.

Indeks literasi keuangan nasional meningkat signifikan dari 38,03% pada 2019 menjadi 49,68% pada 2022.

peningkatan ini mencakup pengetahuan literasi dasar seperti konsep budgeting 50/30/20 (50% kebutuhan pokok, 30% keinginan, 20% tabungan dan investasi).