Tutup
Perbankan

Kemenhub: Perang Iran Vs Israel Belum Ganggu Perdagangan Laut Indonesia

226
×

Kemenhub: Perang Iran Vs Israel Belum Ganggu Perdagangan Laut Indonesia

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyatakan kesiapannya untuk mengamankan alur perdagangan maritim di tengah konflik yang sedang berlangsung antara Iran dan Israel. Meskipun demikian, hingga saat ini, ketegangan geopolitik tersebut belum secara signifikan memengaruhi aktivitas perdagangan di indonesia dan wilayah Asia Tenggara.

Direktur Jenderal perhubungan Laut Kemenhub,Muhammad Masyhud,pada hari Rabu (18/6/2025) di Kantor Kemenhub,Jakarta,menyampaikan bahwa kondisi perdagangan laut saat ini masih dalam keadaan relatif normal. “Belum, belum (sampai sampai mengganggu),” tegasnya.

Masyhud menjelaskan bahwa dampak dari konflik tersebut lebih terasa pada sektor penerbangan, meskipun belum sampai memengaruhi wilayah regional. “Kalau yang dekat-dekat sana aja, paling dia biaya jadi lebih banyak lagi yang dikeluarkan. Cost-cost yang dibutuhkan lebih, karena harus berputar. Kalau di wilayah regional sih belum,” jelasnya.

Kemenhub, atas arahan Presiden Prabowo Subianto, menyatakan komitmennya untuk menjaga peraturan internasional dan jalur perdagangan strategis. “Tentu kalau ada hal-hal yang dimohonkan kepada kita untuk kemudahan dan lain sebagainya. Saat ini sih itu aja dulu,” ungkap Masyhud.Lebih lanjut, masyhud menyampaikan bahwa belum ada kebijakan nasional khusus yang dikeluarkan terkait dengan situasi ini. Kemenhub masih menunggu instruksi lebih lanjut dari Presiden Prabowo Subianto. “Kalau pak menteri (Perhubungan) juga saya kira sama lah.Kita juga diminta untuk membantu teman-teman pelaku usaha yang terkait dengan angkutan,untuk diberi kemudahan-kemudahan,” tuturnya.

Sementara itu, konflik antara Israel dan Iran berpotensi memengaruhi kebijakan ekonomi global. Analis dari Oxford Economics, Ryan Sweet, berpendapat bahwa eskalasi konflik dapat mendorong bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), untuk memangkas suku bunga lebih cepat dari perkiraan.

Sweet menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat memicu respons dari The Fed. “Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan dapat menyebabkan The Fed bersikap lebih lunak,” tulisnya. Menurutnya, guncangan harga minyak yang berkepanjangan dapat mengurangi permintaan dan berpotensi berdampak pada pasar tenaga kerja. “Ekonomi telah melambat dan rentan terhadap hal lain yang salah,termasuk kenaikan harga minyak yang tiba-tiba dan terus menerus,” ujar Sweet.

Sweet menambahkan, “Jika The Fed melihat pukulan terhadap ekonomi dan pasar tenaga kerja lebih besar daripada dorongan sementara terhadap inflasi, bank sentral dapat memberi sinyal kalau mereka terbuka untuk memangkas suku bunga lebih cepat.”