Tutup
EkonomiEnergiNews

Konflik Iran-Israel Ancam Harga Minyak Dunia Meroket

68
×

Konflik Iran-Israel Ancam Harga Minyak Dunia Meroket

Sebarkan artikel ini
ekonom:-serangan-israel-ke-iran-bisa-dorong-harga-minyak-tembus-100-dolar-as-per-barel
Ekonom: Serangan Israel ke Iran Bisa Dorong Harga Minyak Tembus 100 Dolar AS per Barel

Jakarta – Serangan militer Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) memicu kekhawatiran global.Harga minyak dunia berpotensi melonjak ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir akibat konflik yang meningkat ini.

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengungkapkan potensi dampak buruk tersebut.

Saat ini, harga minyak dunia masih berada di kisaran 70 dolar AS per barel.

Namun, Faisal memperingatkan, jika konflik terus berlanjut, harga bisa melonjak hingga 80 dolar AS per barel.

Skenario terburuknya, menurut Faisal, adalah terganggunya distribusi minyak melalui selat Hormuz.

Selat hormuz merupakan jalur vital yang menjadi lintasan sekitar 20 persen perdagangan minyak global.

“Kalau sudah sampai 100 dolar per barel, itu masuk zona tinggi, rekor,” kata Faisal, Minggu (1/3/2026).

“Terakhir kita mengalami kenaikan setinggi itu ketika awal perang Rusia-Ukraina.”

Faisal menilai ketegangan Iran-israel berisiko meluas menjadi konflik regional, terutama jika melibatkan Amerika Serikat.

Dukungan dari China dan negara lain di belakang Iran juga dapat memperpanjang eskalasi.

“Ada kemungkinan perang ini berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan,” ujarnya.

Lonjakan harga minyak global akan berdampak langsung pada harga BBM di dalam negeri.

BBM nonsubsidi hampir pasti naik mengikuti harga pasar internasional.Yang lebih mengkhawatirkan adalah potensi kenaikan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar, yang banyak digunakan masyarakat menengah ke bawah.

“Peningkatan harga ini tentu saja berpotensi mempengaruhi inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat pada umumnya,” kata Faisal.

Israel dan Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer Amerika serikat di Timur Tengah.

Media resmi Iran juga melaporkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan dimulainya “operasi ofensif paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Iran” setelah kematian Khamenei.