Tutup
News

Lewat Program PKM, Unand Tingkatkan Literasi Kader Posyandu Tentang MP-ASI

249
×

Lewat Program PKM, Unand Tingkatkan Literasi Kader Posyandu Tentang MP-ASI

Sebarkan artikel ini
Pelatihan difokuskan pada kemampuan kader dalam memberikan edukasi praktis kepada ibu dan masyarakat tentang MP-ASI. Foto : Kabar Sumbar

Padang — Tim pengabdian masyarakat Universitas Andalas melaksanakan program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) di Puskesmas Pembantu Korong Gadang, Taruko, Kota Padang. Kegiatan ini berfokus memperkuat kapasitas kader Posyandu agar mampu menjadi agen perubahan dalam peningkatan perilaku gizi masyarakat, khususnya terkait pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).

Program tersebut dipimpin oleh Ns. Hermalinda, M.Kep., Sp.Kep. An., Ph.D dari Fakultas Keperawatan Universitas Andalas, bersama tim pengabdian dan mahasiswa yang turut mendampingi kegiatan di lapangan.

“Kader adalah ujung tombak dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemberian MP-ASI yang tepat,” ungkap Hermalinda.

Kegiatan ini merupakan bagian dari hibah Program Kemitraan Masyarakat Batch III yang didanai oleh Direktorat Jenderal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2025.

Pelatihan difokuskan pada peningkatan kemampuan kader dalam memberikan edukasi praktis kepada ibu dan masyarakat tentang MP-ASI yang sehat, aman, dan sesuai usia. Berdasarkan hasil Focus Group Discussion di Posyandu Korong Gadang, masih banyak ibu yang belum mengetahui waktu serta variasi pemberian MP-ASI yang benar.

“Kami ingin kader Posyandu menjadi motor perubahan gizi masyarakat. Mereka harus bisa menyampaikan informasi yang sederhana namun akurat,” ujar Ns. Yanti Puspita Sari, M.Kep., Ph.D. dari Fakultas Keperawatan Unand.

Tekankan Empat Aspek Penting dalam Pemberian MP-ASI

Pelatihan menekankan empat aspek utama pemberian MP-ASI, yaitu ketepatan waktu, kecukupan porsi, keamanan, dan kebersihan makanan.

“Kebersihan dan keamanan makanan sangat berpengaruh pada kesehatan bayi. Karena itu, kader perlu menekankan cara pengolahan yang higienis,” jelas Trisfa Augia, S.Si., Apt. dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Unand.

Selain itu, peserta juga mempelajari pendekatan komunikasi efektif agar pesan kesehatan lebih mudah diterima masyarakat. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat peran kader sebagai komunikator kesehatan di tingkat lokal.

“Kader harus bisa berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dipahami agar pesan gizi tersampaikan secara benar,” tambah Hermalinda.

Dengan meningkatnya kapasitas kader Posyandu, masyarakat diharapkan lebih sadar pentingnya gizi seimbang bagi tumbuh kembang anak. Pelatihan ini juga menegaskan posisi kader sebagai jembatan informasi antara tenaga kesehatan dan masyarakat.

“Antusiasme peserta luar biasa. Kami berharap pengetahuan yang diperoleh bisa diterapkan langsung di Posyandu,” ujar Evi Novita, Amd.KG, staf Puskesmas Pembantu Korong Gadang.