Malalo – Banjir bandang dan longsor menerjang pemukiman warga di malalo, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Puluhan rumah dan fasilitas umum rusak parah.
PT Bukit Raya Mudisa (BRM) langsung bergerak cepat mengirimkan tim dan alat berat untuk membantu korban bencana. Prioritas utama adalah membersihkan rumah warga dan membuka akses jalan yang tertutup material longsor.
Tim PT BRM fokus membersihkan 64 rumah dan 4 masjid di kenagarian Padang Laweh dan Guguak Malalo. Daerah baiang dan muara Tambius menjadi titik terparah yang terdampak galodo.
“Untuk mempermudah pembersihan, kami gunakan alat semprot air.Hasilnya cukup memuaskan karena material yang menumpuk bisa diurai,” ujar abdul Hadi dari PT BRM.
Selain rumah, alat berat juga dikerahkan untuk membersihkan jalan utama. Tujuannya agar lalu lintas kembali lancar dan bantuan bisa segera sampai ke tiga jorong yang terdampak.
Tim relawan PT BRM berkolaborasi dengan aparat kepolisian, TNI, dan relawan lainnya. Gotong royong menjadi kunci utama dalam proses pemulihan ini.”Kami akan terus bergotong royong membenahi tiga jorong ini.Kondisinya memang mengkhawatirkan. Semoga bantuan ini bermanfaat dan meringankan beban saudara kita,” kata Abdul Hadi.
Yuharni (60), warga Jurong Padang Laweh, tak kuasa menahan air mata saat melihat rumahnya hancur dihantam galodo.Ia mengatakan, daerahnya sudah delapan kali dihantam galodo sejak 1958, namun kali ini yang terparah.
Dampak musibah ini sangat dahsyat. Jalan utama terputus, jembatan utama ambrol, dan aliran listrik padam total. Rumah-rumah warga dipenuhi lumpur, batu, dan kayu. Bahkan, sebagian rumah hanyut ke Danau Singkarak.Empat hari setelah kejadian,jalan utama sudah bisa dilalui berkat bantuan alat berat.Namun,rumah-rumah warga masih dipenuhi material setinggi 1,5 meter.
“Kejadiannya begitu tiba-tiba, saat masyarakat hendak Salat Jumat,” tutur Supriyatno, tetangga yuharni.Rumah Suprayitno bahkan lenyap tak berbekas. Yang tersisa hanya timbunan tanah dan batu besar.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini.”Galodo sudah terjadi pada hari Selasa sebelumnya. Warga langsung mengungsi, sehingga saat galodo besar terjadi pada hari Jumat, tidak ada lagi warga di rumah,” jelas Juharni.
Galodo menghantam tiga jorong: Padang Laweh, Guguak Malalo, dan Muara Tambius. Kerusakan terparah terjadi di Muara Tambius yang berada di tepi sungai.
Menurut Suprayitno,galodo kali ini berbeda karena berasal dari aliran air bercampur tanah,batu,dan kayu yang baru. Aliran ini muncul dari guguran bukit yang berjarak sekitar 5 kilometer.
Sebelum menghantam pemukiman,galodo meluluhlantakkan puluhan hektar lahan perkebunan dan sawah.
Proses perbaikan terus berjalan. Petugas kepolisian, TNI, relawan, dan tim PT BRM bahu membahu membersihkan lahan.
Yuharni berharap proses perbaikan berjalan cepat agar warga bisa kembali ke rumah masing-masing. “Rumah kami sudah tidak bisa dihuni lagi karena penuh tanah dan batu. Ini yang paling kami butuhkan sekarang,” harapnya.







