Jakarta – kekayaan Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, dilaporkan anjlok hingga US$4,6 miliar atau setara Rp 76,7 triliun.
Penurunan ini terjadi seiring dengan merosotnya saham Meta Platforms Inc. sebesar 2,3 persen ke level US$620,75.
Kondisi ini memperparah koreksi yang terjadi selama sepekan terakhir, mencapai 17,5 persen, termasuk penurunan 11 persen dalam sehari.
Zuckerberg,yang memegang sekitar 13 persen saham Meta,mengalami penurunan kekayaan bersih sebesar 2,1 persen akibat anjloknya saham tersebut.
Akibatnya, Zuckerberg sempat tergeser dari posisi tiga besar orang terkaya di dunia.
Data Forbes menunjukkan, pada Kamis (13/11/2025), kekayaan Zuckerberg tercatat US$209 miliar, menyusut US$6,1 miliar atau 2,85 persen.
Menurut Forbes, penurunan saham Meta dipicu oleh laporan keuangan kuartal III-2025 yang lesu, memperburuk kepercayaan pasar.
Perusahaan melaporkan laba per saham hanya US$1,05, turun 84 persen dari perkiraan analis FactSet.
Penurunan ini dipicu oleh beban pajak satu kali sebesar US$15,9 miliar akibat kebijakan fiskal baru di AS. Tanpa beban tersebut, laba per saham Meta diperkirakan mencapai US$7,25.
Meski demikian, Meta tetap agresif berinvestasi dalam strategi menghadapi era superintelligence.
Perusahaan menaikkan proyeksi belanja modal tahunannya menjadi US$70-72 miliar, naik dari perkiraan awal US$66-72 miliar.
citra Meta juga terpengaruh oleh bocornya dokumen internal yang menunjukkan sekitar 10 persen pendapatan berasal dari iklan penipuan dan barang terlarang.
Meta juga sedang diselidiki oleh Securities and Exchange Commission (SEC) terkait dugaan iklan penipuan keuangan di platformnya.
Juru bicara Meta, Andy Stone, membantah informasi tersebut dan menyebut laporan itu selektif dan menyesatkan.
Laporan juga menyoroti temuan regulator Inggris pada 2023 yang mencatat produk Meta terlibat dalam 54 persen kasus penipuan pembayaran.







