Jakarta – Antusiasme generasi Z (Gen Z) untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi sorotan, namun motivasi mereka untuk berkarir di birokrasi dipertanyakan. Zulfikar Arse Sadikin, pada Sabtu (21/6/2025), menyampaikan pandangannya terkait hal tersebut.
Menurut Zulfikar, pemerintah telah berupaya menyesuaikan struktur kerja PNS dengan karakteristik Gen Z, termasuk tuntutan akan fleksibilitas kerja, pengembangan karier, digitalisasi keterampilan, rekrutmen yang transparan dan adil, lingkungan kerja inklusif dan berintegritas, keseimbangan kehidupan kerja, kesehatan mental, reformasi 4.0, hingga reformasi digital.
Namun, Zulfikar menilai bahwa implementasi penyesuaian tersebut belum optimal. “Tidak ada undang-undang yang tidak beri ruang bagi keinginan gen Z dan hadirnya hal-hal yang tadi saya sebutkan, ndak ada. Tapi yang jadi soal, kenyataannya ndak demikian. Yang benar-benar bisa dirasakan baru fleksibilitas kerja,” ujarnya.
Lebih lanjut, Zulfikar menyoroti isu pengembangan karier di lingkungan PNS. Ia menegaskan, “Kalau soal pengembangan karier, aduh, kita ini kerja tidak atas dasar karier. Masih belum lah.”
Zulfikar juga menyinggung dugaan praktik tidak sehat dalam rekrutmen ASN.”Rekrutmen yang transparan dan fair, ini juga aduh. Sampai sekarang saya masih dengar, untuk jadi ASN bayar piro wani piro. Untuk jadi pejabat juga begitu, eselon IV-1,” bebernya, mencurigai bahwa praktik “main belakang” masih marak terjadi di lingkungan pemerintahan.







