Tutup
Regulasi

Panas Bumi: Andalan Transisi Energi, Peluang Investasi PGEO Menarik?

195
×

Panas Bumi: Andalan Transisi Energi, Peluang Investasi PGEO Menarik?

Sebarkan artikel ini

Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dinilai memiliki peran krusial dalam transisi energi Indonesia, berkat potensi energi panas bumi yang dikelolanya. Analis pasar modal dari Bahana Sekuritas, Jeremy Mikael, melihat saham PGEO menawarkan prospek pertumbuhan yang terukur dan profil bisnis yang relatif stabil dibandingkan sektor energi baru terbarukan (EBT) lainnya.

Energi panas bumi yang dikelola PGEO diyakini mampu menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional sekaligus meningkatkan bauran EBT.

Jeremy meyakini saham PGEO memiliki potensi positif dengan pertumbuhan yang lebih terukur dibandingkan sektor EBT lain, termasuk pertambangan mineral dan logam.

“Dengan target pengembangan kapasitas menuju 1 gigawatt (GW) dan produksi 5,5–6,0 gigawatt hour (GWh) pada 2028, PGEO menawarkan kombinasi pertumbuhan yang terukur dan profil bisnis yang relatif defensif,” jelas Jeremy.

Stabilitas bisnis panas bumi membuat pendapatan dan laba PGE relatif konsisten. Target PGE menjadi “1 GW company” melalui proyek-proyek strategis menjadi daya tarik bagi investor yang mencari investasi energi hijau dengan risiko terkendali.

Diproyeksikan, kapasitas PGE pada 2028 dapat mencapai 1 GW dengan total produksi listrik 5,5–6,0 GWh. EBITDA diperkirakan mencapai US$484 juta dengan CAGR 11% (2024–2028), sementara laba bersih diproyeksikan US$201 juta dengan CAGR 5,8%.

Dari sisi fundamental, neraca keuangan PGE dinilai sehat.

“PGEO memiliki *growth story* yang jelas dari penambahan kapasitas organik. Valuasinya masih relatif *reasonable* dibanding pemain panas bumi lainnya, dengan *gearing ratio* di bawah rata-rata industri sehingga masih memiliki *debt headroom* untuk ekspansi,” ungkap Jeremy.

Prospek sektor EBT akan semakin kuat seiring target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Dokumen tersebut menargetkan kontribusi listrik EBT sebesar 30% pada 2034, dengan tambahan kapasitas terpasang EBT 52,8 GW.

Panas bumi diproyeksikan berkontribusi sekitar 5,2 GW dari total tersebut, meningkat signifikan dari kapasitas saat ini. Pangsa pasar EBT berdasarkan kapasitas terpasang ditargetkan naik menjadi 37,5% dari sekitar 9,6% saat ini.

“Minat investor terhadap sektor EBT mulai terlihat. Saat ini, saham PGEO berada dalam fase koreksi setelah kenaikan pada kuartal kedua dan ketiga, namun prospek jangka menengahnya tetap menarik,” lanjut Jeremy.

Jeremy menekankan pentingnya sinergi antar pemangku kepentingan dalam eksekusi proyek. Ia menyoroti peran Danantara dalam mendukung kerja sama PGEO dan PT PLN (Persero), termasuk anak usaha PLN Indonesia Power, melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU).

Kerja sama ini mencakup pengembangan 19 proyek panas bumi dengan total potensi tambahan kapasitas hingga 530 megawatt (MW).