Tutup
EkonomiNews

Pengamat Khawatir Kebijakan Menkeu Guyur Perbankan Rp 200 Triliun Picu BLBI Jilid 2

339
×

Pengamat Khawatir Kebijakan Menkeu Guyur Perbankan Rp 200 Triliun Picu BLBI Jilid 2

Sebarkan artikel ini
ihsg-dibuka-menghijau-cenderung-datar-seiring-penguatan-bursa-asia
IHSG Dibuka Menghijau Cenderung Datar Seiring Penguatan Bursa Asia

Jakarta​ – Kebijakan Menteri ⁤Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi ​Sadewa menyalurkan ⁢Rp 200 triliun dana saldo anggaran⁤ lebih (SAL) ⁢ke bank BUMN⁢ menuai⁣ kritik tajam. pengamat khawatir langkah ‍ini berpotensi mengulang tragedi BLBI.

penyaluran⁢ dana ⁣ke lima bank‌ Himbara itu bertujuan mendongkrak pertumbuhan​ ekonomi.

Namun, ⁤pengamat intelijen surya Fermana menilai kebijakan ini keliru dan berisiko ‍tinggi.”Keputusan⁤ ini mencerminkan kurangnya kehati-hatian fiskal⁣ dan bisa membawa ‌Indonesia menuju krisis keuangan baru, yang oleh banyak pengamat disebut sebagai BLBI jilid 2,” kata Surya, Minggu (14/9/2025).

Surya ⁢menilai Purbaya⁤ melakukan kesalahan strategis dalam mengelola cadangan likuiditas negara.

Menurutnya, dana ‌Rp 425 triliun yang mengendap di ‌Bank Indonesia (BI) adalah‍ bantalan penting​ untuk menjaga ​stabilitas moneter dan fiskal.

Penarikan Rp ⁣200 triliun melemahkan posisi keuangan negara.

“Langkah ini menunjukkan bahwa negara ⁣sedang ⁣dalam⁢ kondisi fiskal⁢ yang sangat rapuh, di mana pemerintah terpaksa ‘meminjam’ dana internal untuk menutupi kekurangan likuiditas,” ujarnya.Surya menambahkan, penempatan dana di bank BUMN berisiko tinggi. Bank bisa menggunakan dana⁤ tersebut untuk​ menutupi kredit macet atau ekspansi kredit berisiko tanpa pengawasan memadai.

“Ini mirip dengan BLBI 1998, ketika dana negara disalurkan ⁣ke bank-bank bermasalah tanpa akuntabilitas yang jelas,” tegasnya.Surya menilai Purbaya gagal mengantisipasi risiko sistemik dari kebijakan ini.

Dana‌ Rp 200 triliun berpotensi dialihkan⁢ untuk⁤ mendanai proyek berisiko tinggi atau​ disalahgunakan melalui praktik korupsi.

Kebijakan ini juga ‍bisa memicu inflasi jika‍ kredit yang disalurkan tidak produktif.

“BLBI jilid 2⁢ bukanlah ‍isapan jempol,⁤ melainkan peringatan nyata atas kesalahan Sadewa dalam merumuskan kebijakan ini,” pungkasnya.