Tutup
InvestasiNews

Perak Melesat, Investor Lindungi Aset di Tengah Gejolak

108
×

Perak Melesat, Investor Lindungi Aset di Tengah Gejolak

Sebarkan artikel ini
perak-cetak-rekor-tertinggi,-analis-ramal-harga-bisa-tembus-us$150
Perak Cetak Rekor Tertinggi, Analis Ramal Harga Bisa Tembus US$150

Jakarta – Harga perak dunia mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada perdagangan Kamis (29/1/2026).

Kenaikan ini sejalan dengan reli emas yang terus berlanjut.

Ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global menjadi pendorong utama kenaikan harga logam mulia ini.

Harga perak spot melonjak 0,6 persen ke level US$117,30 per ons, setara dengan Rp 1,97 juta (estimasi kurs Rp 16.800 per dolar AS).

Sebelumnya, perak sempat menyentuh rekor tertinggi di US$119,34 atau Rp 2 juta per ons.

Lonjakan harga perak terjadi di tengah kenaikan harga emas dunia yang mendekati level US$5.600 per ons.

emas spot tercatat naik 2,6 persen ke posisi US$5.538,69 per ons, setelah sempat mencapai rekor intraday di US$5.591,61 per ons.

Analis Citi bahkan menaikkan proyeksi jangka pendek harga perak menjadi US$150 per ons dari sebelumnya US$100.

Namun, para analis global juga mengingatkan bahwa pergerakan perak cenderung ekstrem dan rawan koreksi tajam setelah reli yang signifikan.

Ketegangan politik global menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga logam mulia.

Rencana Presiden AS Donald Trump untuk mengenakan tarif baru terhadap impor Korea Selatan, serta tenggat pendanaan pemerintah AS pada 30 Januari, turut memicu kekhawatiran pasar.

“Tatanan global sedang bergeser dan kepercayaan telah hilang. Memulihkannya akan membutuhkan waktu,” ujar analis senior Swissquote, Ipek Ozkardeskaya.

Situasi geopolitik semakin memanas setelah Trump mendesak Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir.

Teheran memperingatkan akan membalas AS, Israel, dan sekutunya.

Di sisi lain, federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 persen hingga 3,7 persen, sementara inflasi masih berada di atas target 2 persen.

Sebagian analis menilai bahwa reli emas dan perak bukan hanya sekadar reaksi panik.

Kondisi ini juga mencerminkan perubahan struktural dalam cara investor menyimpan aset.

“Utang AS yang membengkak dan ketidakpastian global mendorong investor menumpuk emas,” kata analis Marex, Edward meir.