Grobogan – Petani jagung di Grobogan dan Kendal, jawa Tengah, kini bisa bernapas lega. Pasalnya, panen jagung kali ini membuahkan hasil yang menggembirakan.
Produktivitas jagung mencapai 6-7 ton per hektare. Angka ini melampaui rata-rata produksi jagung nasional pada tahun 2025.
Keberhasilan ini merupakan buah dari kerjasama antara petani dengan Bayer Indonesia.
Bayer Indonesia menyatakan komitmennya untuk terus mendukung ketahanan pangan nasional. Dukungan diberikan melalui akses benih jagung berkualitas dan pendampingan teknis.
Panen jagung ini melibatkan 800 petani dari berbagai kelompok tani. Turut hadir camat, lurah, dinas pertanian, dan Gapoktan.
Varietas jagung yang dipanen adalah hibrida Dekalb DK19C “Cantik” dan DK79C “Kuat”.
Menurut Cluster Lead East Asia & Pakistan Bayer Crop Science, Mateus Barros, Grobogan dan Kendal memiliki peran strategis dalam mendukung misi swasembada jagung nasional.
“Petani jagung berada di jantung upaya peningkatan produksi pangan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (23/1/2026).
Varietas Dekalb DK19C “Cantik” diperkenalkan pada akhir 2024. Sementara DK79C “Kuat” diluncurkan pada kuartal ketiga 2025.
Kedua varietas ini dikembangkan untuk menjawab kebutuhan agroekologi yang berbeda. DK19C memiliki umur panen sekitar 105 hari. DK79C dirancang untuk lahan kering dan berbukit dengan umur panen sekitar 100 hari.
Country Commercial Lead Bayer Crop science Indonesia dan Malaysia, Yuchen Li, menekankan pentingnya pendampingan teknis.
“Benih berkualitas tinggi harus didukung dengan pendampingan teknis yang konsisten, akses informasi, serta praktik pertanian yang lebih baik,” jelasnya.
Zakaria, petani jagung asal Kendal, merasakan manfaat program demoplot dan pendampingan teknis dari Bayer.
“Saya bisa melihat perbedaannya langsung di demoplot. Dari cara tanam, pemupukan, sampai pengendalian hama.Hasilnya lebih bagus dan konsisten,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Kusnandar, petani dari Grobogan.







