Jakarta – direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengungkapkan pengalaman emosionalnya saat memimpin pemulihan sistem kelistrikan di sumatra pascabencana banjir dan longsor.
Darmawan menceritakan perjuangan tim PLN di lapangan selama berminggu-minggu menghadapi kondisi ekstrem dan kerusakan parah.
Hal itu disampaikannya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI.
“Kami ada di lapangan selama berminggu-minggu.Dan pertama kali kami merasakan bahwa kami adalah manusia yang sangat kecil melawan kekuatan Tuhan Yang maha Kuasa dan alam,” ujar Darmawan dengan suara bergetar, Rabu (21/1).
Ia mengatakan upaya pemulihan yang dilakukan tim PLN melampaui batas kemampuan manusia.Darmawan bahkan menyebut peristiwa ini menjadi titik balik cara PLN memandang keandalan sistem kelistrikan nasional.
“tim kami memberikan yang terbaik di luar batas kemampuan kemanusiaan. Ini adalah perubahan besar bagaimana kami menyikapi keandalan sistem kelistrikan,” tegasnya.
Pasca bencana, PLN langsung melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kesiapsiagaan.
PLN tak lagi bisa mengandalkan pola perencanaan lama.
“Kami tidak bisa lagi, tidak punya planning of contingency seperti kemarin. Saat ini kami men-tracking di mana adanya siklon dan hurricane,” jelas Darmawan.
PLN kini rutin memantau pergerakan cuaca ekstrem, menyiapkan tower emergency, hingga memetakan skenario terburuk jika belasan menara transmisi roboh sekaligus.
“Worst case apabila ada 15 tower yang roboh, kami sudah siap,” kata Darmawan.
PLN juga menyiagakan helikopter dan memperkuat koordinasi dengan TNI, Polri, serta BNPB.
Tujuannya, agar personel dan peralatan dapat dikerahkan dalam hitungan jam jika terjadi bencana baru.”Apabila terjadi epicentrum bencana baru, semua siap di-deploy, hanya dalam hitungan jam, baik orangnya maupun peralatannya,” ujarnya.Darmawan juga mengulas perbedaan karakter pemulihan di sejumlah daerah Aceh.
Di Aceh Tamiang, perbaikan sistem kelistrikan berlangsung relatif cepat karena akses jalan tidak terputus. Peralatan juga bisa langsung dikirim dari Sumatra Utara.
Namun, jumlah rumah yang rusak di wilayah itu mencapai 40 ribu unit, hampir setara dengan Aceh utara.
Di aceh Tengah, khususnya Takengon, jumlah rumah rusak lebih sedikit, sekitar 10 ribu unit.Namun, akses jalan terputus sehingga PLN terpaksa mengangkut 1.100 tiang listrik dan kabel menggunakan pesawat Hercules.
PLN melihat kecepatan pemulihan listrik sangat bergantung pada keterbukaan akses.Tingkat kerusakan rumah tidak selalu sejalan dengan kondisi jaringan listrik.
Darmawan menyebut pemulihan sistem kelistrikan Aceh sudah hampir rampung.
Dari total sekitar 6.500 desa, kini tinggal 60 desa atau kurang dari 1 persen yang masih mengalami kendala pasokan listrik karena akses jalan belum terbuka atau wilayahnya masih terisolir.







