Tutup
NewsPendidikan

PNM Bangkitkan Semangat Penyandang Cerebral Palsy di Sumpah Pemuda

188
×

PNM Bangkitkan Semangat Penyandang Cerebral Palsy di Sumpah Pemuda

Sebarkan artikel ini
pnm-dorong-cerebral-palsy-berdaya-di-hari-sumpah-pemuda
PNM Dorong Cerebral Palsy Berdaya di Hari Sumpah Pemuda

Jakarta – PT Permodalan Nasional Madani (PNM) memberikan beasiswa belajar Bahasa Inggris selama satu tahun penuh kepada 100 siswa dan pengajar penyandang disabilitas cerebral palsy.

Program PNM peduli ini merupakan kerjasama dengan INDISI.

Beasiswa tersebut diberikan kepada siswa dan pengajar di Sekolah Luar Biasa Tuna Daksa (SLBD) D1 Yayasan Peduli Anak Cacat (YPAC) Jakarta dan SLBN 01 Jakarta.

Direktur Utama PT PNM, Arief Mulyadi, mengatakan bahwa setiap manusia memiliki potensi besar yang hanya perlu diberi kesempatan setara untuk tumbuh.

“Pemuda dengan cerebral palsy adalah bagian dari masa depan bangsa yang tak boleh dipandang sebelah mata, terlebih di momen Sumpah Pemuda ini,” ujarnya.

PNM menghadirkan pendekatan blended learning yang dilakukan inklusif secara daring melalui aplikasi BAHASO dan secara luring dengan kelas secara langsung setiap harinya.

Kepala sekolah SLB-D1 YPAC Jakarta, Ai Ucu Rosida, menyampaikan rasa syukur atas kerja sama dengan PNM.

“Program ini menjadi bukti bahwa setiap anak berhak mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas dan bermakna agar memiliki harapan yang setara,” katanya.

PNM ingin memastikan bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya.

Kegiatan ini juga menjadi salah satu upaya PNM dalam memperluas makna pemberdayaan yang selama ini identik dengan sektor ekonomi, menjadi sektor pendidikan bagi difabel.

Program serupa telah diterapkan di berbagai kota, termasuk Semarang, Tegal, Yogyakarta, Makassar, Purwokerto, Denpasar, Pontianak, Bandung, Balikpapan, Bekasi, Surabaya, Jambi, dan Jember.

Sebagai informasi, cerebral palsy merupakan gangguan pada perkembangan gerak dan postur tubuh akibat kelainan otak yang terjadi sejak dini.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023, terdapat lebih dari 4.000 anak dengan kondisi cerebral palsy di Jakarta yang memerlukan dukungan pendidikan inklusif dan akses pembelajaran adaptif.