Tutup
News

Produksi Katoda Dimulai, Smelter PTFI Jadi Contoh Hilirisasi Pro-Rakyat

248
×

Produksi Katoda Dimulai, Smelter PTFI Jadi Contoh Hilirisasi Pro-Rakyat

Sebarkan artikel ini
produksi-katoda-dimulai,-smelter-ptfi-jadi-contoh-hilirisasi-pro-rakyat
Produksi Katoda Dimulai, Smelter PTFI Jadi Contoh Hilirisasi Pro-Rakyat

Gresik – PT Freeport Indonesia (PTFI) segera merealisasikan produksi perdana katoda tembaga dari smelter Manyar, Gresik. Langkah ini menandai kemajuan signifikan dalam hilirisasi industri pertambangan yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat lokal, dengan target produksi mencapai 441.000 ton per tahun.

universitas Brawijaya (UB) melalui Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) dalam laporan riset tahun 2024 berjudul “Laporan Akhir Membangun kemitraan antara Masyarakat, Pemerintah Daerah, dan Perusahaan untuk Optimalisasi Manfaat Hilirisasi” menyoroti keberhasilan Gresik dalam membangun kemitraan yang melibatkan masyarakat lokal sejak awal pembangunan industri. Salah satu bentuk kolaborasi tersebut terwujud dalam forum “Rembuk Akur” yang memfasilitasi perekrutan tenaga kerja dari sembilan desa di sekitar kawasan industri smelter.

Laporan FEB UB juga mencatat bahwa partisipasi pelaku usaha lokal telah membuka peluang ekonomi yang lebih luas. UMKM tidak hanya berperan sebagai penyedia jasa katering dan logistik, tetapi juga didorong melalui pengembangan sentra IKM seperti Songkok Kemuteran dan Mesin logam Pelemwatu Menganti di Gresik.

Hendi Subandi, peneliti utama dalam laporan tersebut, menyatakan bahwa kemitraan strategis memungkinkan UMKM untuk berperan lebih besar dalam rantai pasok industri, yang pada akhirnya memperkuat ekosistem ekonomi lokal. “Dengan kemitraan strategis,pelaku UMKM dapat mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok industri,yang pada akhirnya memperkuat ekosistem ekonomi lokal,” tulisnya dalam laporan tersebut.

Laporan tersebut menekankan bahwa keberlanjutan manfaat hilirisasi dapat dicapai melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan enam unsur utama: perusahaan, pemerintah daerah, masyarakat, akademisi, media, dan NGO. Pendekatan hexahelix ini dianggap penting untuk menjaga kesinambungan antara kepentingan ekonomi dan pembangunan sosial di tingkat lokal.

Hendi menambahkan, dengan melibatkan berbagai aktor dalam model kemitraan hexahelix, hilirisasi dapat menciptakan ekosistem yang inklusif dan berkelanjutan, memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat lokal. “Dengan melibatkan berbagai aktor dalam model kemitraan hexahelix, hilirisasi dapat menciptakan ekosistem yang inklusif dan berkelanjutan, memberikan dampak positif yang nyata bagi masyarakat lokal,” lanjutnya.

Temuan ini sejalan dengan riset Fakultas Ekonomi dan bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) berjudul “Kajian Dampak Hilirisasi Industri Tambang terhadap Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan: Tembaga, Bauksit, dan Pasir Silika”. Riset tersebut menyoroti bahwa hilirisasi di sejumlah daerah, termasuk Gresik, berdampak pada peningkatan indikator sosial seperti rata-rata lama sekolah, umur harapan hidup, serta penurunan angka stunting. Hal ini merupakan dampak tidak langsung dari pembangunan industri dan pemanfaatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta Dana Bagi Hasil (DBH).

FEB UI juga mencatat bahwa hilirisasi dapat memperkuat belanja pembangunan di sektor-sektor publik seperti pendidikan dan kesehatan,karena peningkatan pendapatan daerah membuka ruang fiskal yang lebih besar. Dalam jangka panjang, model ini dipandang mampu mendongkrak kualitas hidup masyarakat di sekitar kawasan industri.

Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah FEB UI, Nur Kholis, pada Rabu (23/7/2025) mengatakan bahwa dengan pendapatan daerah yang meningkat, daerah-daerah hilirisasi kini memiliki kapasitas fiskal yang lebih baik untuk membiayai layanan dasar. “Dengan pendapatan daerah yang meningkat, daerah-daerah hilirisasi kini memiliki kapasitas fiskal yang lebih baik untuk membiayai layanan dasar. Ini menunjukkan bahwa manfaat hilirisasi bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” katanya.

Produksi katoda tembaga dari smelter Manyar akan menyuplai kebutuhan bahan baku untuk kabel listrik, kendaraan listrik, dan teknologi energi terbarukan. Dengan kapasitas pengolahan yang besar dan proses produksi yang terintegrasi, fasilitas ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global.

Lebih dari sekadar angka produksi, langkah ini memberi gambaran bahwa pembangunan industri bisa diarahkan untuk menciptakan nilai bersama. Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat setempat punya peran yang saling menguatkan. Gresik menunjukkan bahwa hilirisasi bukan hanya agenda nasional,tapi juga proses yang bisa menghidupkan ekonomi daerah dari dekat.