Tutup
News

Prospek Cerah 2026: Saham Blue Chip Bangkit, Obligasi Mandiri

186
×

Prospek Cerah 2026: Saham Blue Chip Bangkit, Obligasi Mandiri

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Di tengah gejolak ekonomi global, pasar keuangan Indonesia justru menunjukkan sinyal positif. PT Simpan Asset Management bahkan memprediksi tahun 2026 sebagai momentum kebangkitan saham blue chip dan kemandirian pasar obligasi dari investor asing.

Optimisme ini tertuang dalam laporan strategis Simpan Macro Outlook 2026, yang dirilis sebagai panduan bagi investor dalam menghadapi dinamika pasar keuangan di tahun mendatang.

Simpan Asset Management melihat fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, didukung oleh pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di atas 5 persen sepanjang tahun 2025.

Struktur ekonomi yang solid, penetrasi industri yang rendah, potensi peningkatan produktivitas, serta demografi yang menguntungkan menjadi pilar utama.

Memasuki tahun 2026, Simpan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,1 persen secara tahunan. Kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif diyakini akan menjadi pendorong utama.

Inisiatif strategis pemerintah, seperti Danantara, diharapkan memberikan dampak positif dalam jangka panjang dan menjaga kepercayaan pelaku pasar.

Laporan tersebut menyoroti pergeseran struktur pasar obligasi Indonesia. Kepemilikan asing atas Surat Berharga Negara (SBN) turun hingga 14 persen pada tahun 2025, namun tidak menyebabkan gejolak signifikan.

Hal ini menandakan ketahanan pasar obligasi Indonesia yang semakin bertumpu pada investor domestik. Pasar obligasi diperkirakan tetap kuat pada tahun 2026, meskipun potensi kenaikan imbal hasil tenor menengah hingga panjang tetap ada.

Dari pasar saham, Simpan melihat potensi perubahan tren. Saham blue chip yang tertinggal pada tahun 2025, diprediksi akan bangkit pada tahun 2026.

Valuasi saham blue chip saat ini berada pada level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Pemulihan siklus laba dan kondisi likuiditas global yang membaik menjadi faktor pendorong.

“Dengan valuasi saham blue-chip yang berada di level terendah dalam beberapa tahun terakhir, pemulihan siklus laba yang mulai terlihat, serta kondisi likuiditas global yang semakin kondusif, tahun 2026 membuka peluang terjadinya pembalikan arus dana kembali ke saham-saham blue-chip Indonesia,” ujar Brand Manager Simpan Asset Management, Jesika Rumenda.

Dari sisi global, ekonomi Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih tangguh hingga tahun 2026. Sektor teknologi, terutama kecerdasan buatan (IA), menjadi motor utama pertumbuhan.

Meskipun demikian, valuasi pasar saham global yang tinggi meningkatkan risiko terhadap kejutan negatif. Volatilitas diperkirakan tetap ada, sementara potensi imbal hasil cenderung lebih moderat.

Laporan tersebut juga menyoroti berakhirnya era yen carry trade sebagai salah satu faktor risiko global. Pasar keuangan global diperkirakan akan mencari sumber pendanaan alternatif dengan biaya yang lebih tinggi.

Menghadapi dinamika ini, Simpan Asset Management menekankan pentingnya strategi investasi yang disiplin, terukur, dan berfokus pada kualitas fundamental aset.