Tutup
Regulasi

Prospek Ekspor Batu Bara Indonesia: Tantangan 5 Tahun Mendatang

250
×

Prospek Ekspor Batu Bara Indonesia: Tantangan 5 Tahun Mendatang

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Ekspor batu bara Indonesia diprediksi anjlok drastis dalam lima tahun ke depan. Penurunan ini didorong oleh pergeseran tren energi global, di mana negara-negara pasar utama mulai beralih ke sumber energi terbarukan.

Bahkan, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, memperkirakan ekspor batu bara tahun ini bisa menyusut hingga 20-25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ia mendesak pemerintah untuk mengevaluasi kembali penerbitan izin produksi.

Fabby menjelaskan, transisi energi yang dilakukan negara-negara importir utama seperti Tiongkok, India, dan sejumlah negara di Asia Tenggara menjadi pemicu utama. Mereka kini semakin gencar memanfaatkan energi terbarukan untuk pembangkit listrik. Pernyataan ini disampaikan Fabby dalam acara Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2025 di Jakarta, Rabu (10/9).

Meski demikian, data produksi batu bara Indonesia pada 2024 menunjukkan angka tinggi, mencapai 836 juta ton. Angka ini melampaui target yang ditetapkan, yaitu 710 juta ton, atau sekitar 117 persen. Dari total produksi tersebut, 555 juta ton dialokasikan untuk ekspor, 233 juta ton untuk kebutuhan domestik (DMO), dan 48 juta ton menjadi stok.

Fabby menegaskan proyeksinya untuk tahun ini, “Saya kira estimasinya kalau sampai akhir tahun ini bisa turun 20-25% dari ekspor tahun lalu.” Menanggapi tren ini, ia mendesak pemerintah untuk mengevaluasi kembali penerbitan izin produksi batu bara bagi perusahaan.

Fabby menyarankan agar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tidak terlalu “bullish” dalam memproyeksikan ekspor masa depan, karena hal tersebut berdampak pada penerimaan negara. “Era batu bara itu sudah lewat,” pungkasnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi penurunan kinerja ekspor batu bara. Sepanjang Januari hingga Juli 2025, nilai ekspor komoditas ini merosot 21,74 persen menjadi US$ 13,82 miliar. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2024, yang mencapai US$ 17,66 miliar.

Meskipun demikian, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara hingga 26 Agustus 2025 telah mencapai Rp 84,20 triliun. Jumlah ini setara dengan 67,52 persen dari target APBN 2025 sebesar Rp 124,71 triliun.

Menanggapi kondisi ini, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyatakan optimisme bahwa PNBP dari sektor minerba tetap akan tercapai. Ia menjelaskan, per 1 September, target PNBP telah mencapai 70 persen. “Jadi, untuk PNBP, insya allah sesuai target sampai pada akhir tahun,” tutur Tri, Rabu (10/9).