Tutup
Regulasi

Prospek Saham LQ45 2026: Analisis dan Katalis Rebound

310
×

Prospek Saham LQ45 2026: Analisis dan Katalis Rebound

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Kinerja indeks saham LQ45 sepanjang tahun 2025 tertinggal jauh dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar ini hanya mencatatkan kenaikan 2,41% secara year to date (ytd) hingga akhir perdagangan 2025.

Angka ini jauh di bawah performa IHSG yang melesat 22,13% pada periode yang sama.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengungkapkan, aksi jual investor asing pada saham berkapitalisasi besar menjadi pemberat utama indeks LQ45 sepanjang tahun lalu.

Emiten sektor keuangan, konsumsi, dan komoditas cenderung bergerak sideways atau bahkan tertekan.

Fluktuasi harga komoditas seperti batu bara dan minyak sawit (CPO), serta kenaikan biaya dana turut membebani saham-saham big caps.

Sementara itu, IHSG didorong oleh reli saham second liner dan new economy. LQ45 sebagai kumpulan blue chip kurang responsif terhadap sentimen risk on.

Prospek Saham LQ45 di Tahun 2026

Hari Rachmansyah memprediksi tahun 2026 berpeluang menjadi fase rebound bagi indeks LQ45.

Namun, kinerja indeks diperkirakan masih cenderung moderat dan selektif, bergantung pada perbaikan fundamental emiten dan arah arus modal asing.

Dua katalis utama pendukung LQ45 di tahun 2026 adalah stabilitas makro dan prospek ekonomi domestik yang solid. Ini dapat mendorong aliran modal asing kembali ke saham blue chip.

“Pasar telah melihat saham LQ45 sebagai barometer likuiditas dan kesehatan pasar,” kata Hari.

Stabilitas atau potensi pelonggaran suku bunga global juga dapat menambah sentimen risk on dan membantu saham berkapitalisasi besar kembali bergerak positif.

Namun, sejumlah sentimen negatif masih membayangi. Ketidakpastian global, tekanan harga komoditas, dan biaya dana yang tinggi menjadi ancaman bagi profitabilitas sektor bank, konsumsi, dan komoditas yang mendominasi LQ45.

Volatilitas pasar juga diperkirakan tetap tinggi akibat ekspektasi kebijakan moneter, ketegangan geopolitik, dan pergeseran aliran modal asing.

Untuk tahun 2026, saham-saham seperti BUMI, EMTK, INCO, NCKL, SCMA, UNTR, UNVR, JPFA, ANTM, ASII, dan TLKM berpotensi menjadi penopang utama kinerja indeks LQ45.

Saham-saham ini memiliki kombinasi likuiditas tinggi, kapitalisasi besar, serta katalis sektoral yang relevan, mulai dari pemulihan komoditas dan hilirisasi mineral, transformasi digital dan media, hingga stabilitas sektor konsumsi dan telekomunikasi.

Selain itu, saham-saham yang diperdagangkan sangat aktif sepanjang 2025 berpotensi masuk ke LQ45.

Masuknya saham-saham berlikuiditas tinggi dengan volatilitas yang sehat berpotensi membuat indeks LQ45 semakin responsif terhadap sentimen pasar.

Indeks ini juga dinilai akan lebih merefleksikan pergerakan IHSG secara keseluruhan serta kian menarik bagi fund manager yang memburu alpha, bukan sekadar strategi defensif.

“Dengan komposisi yang lebih market-driven, LQ45 pada 2026 berpeluang tidak lagi tertinggal dari IHSG, melainkan bergerak lebih selaras mengikuti rotasi sektor dan arus dana,” pungkas Hari.