Tutup
Regulasi

Prospek TOWR: Kebijakan BI Dorong Kinerja Sarana Menara Nusantara

316
×

Prospek TOWR: Kebijakan BI Dorong Kinerja Sarana Menara Nusantara

Sebarkan artikel ini

Jakarta – PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) menunjukkan kinerja yang solid hingga kuartal III-2025, didorong oleh pendapatan sewa menara yang menjadi kunci utama.

Perusahaan menara ini berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp 9,68 triliun dalam periode Januari-September 2025, meningkat 2,52% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (YoY). Laba bersih TOWR juga tumbuh positif sebesar 4,41% YoY, mencapai Rp 2,55 triliun.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, memperkirakan TOWR akan terus mencatatkan pertumbuhan kinerja yang stabil dan tangguh di awal tahun depan. Visibilitas pendapatan yang kuat menjadi salah satu faktor pendukung utama.

Fokus strategis TOWR pada diversifikasi segmen non-menara, seperti Fiber to the Tower (FTTT) dan Fiber to the Home (FTTH), juga diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru. Kontribusi segmen ini terhadap pendapatan konsolidasi semakin signifikan di tengah konsolidasi pasar menara.

Selain itu, perbaikan struktur modal setelah rights issue dan potensi penurunan suku bunga diperkirakan akan meningkatkan margin laba bersih perusahaan melalui efisiensi beban bunga.

“Sentimen utama yang perlu dicermati adalah arah kebijakan moneter Bank Indonesia. Berlanjutnya siklus penurunan suku bunga pada awal 2026 akan menjadi katalis positif bagi profitabilitas TOWR mengingat struktur modalnya yang padat utang,” ujar Abida.

Efektivitas sinergi dari akuisisi aset serat optik serta realisasi penurunan rasio utang (deleveraging) pasca aksi korporasi sebelumnya juga akan menjadi perhatian pelaku pasar. Pengumuman dividen final dan kepastian jadwal lelang spektrum frekuensi baru akan menjadi indikator tambahan bagi investor dalam menilai stabilitas arus kas serta potensi ekspansi masa depan.

Analis OCBC Sekuritas, Gani, mencatat bahwa total utang berbunga TOWR telah menurun menjadi Rp 45,3 triliun per September 2025, dari Rp 50,5 triliun pada Juni 2025 dan Rp 52,3 triliun pada Desember 2024.

“Dampaknya sudah terlihat, beban bunga kuartal ketiga 2025 turun menjadi Rp 759 miliar, meskipun pembayaran hanya terjadi di bagian akhir kuartal,” kata Gani dalam risetnya.

Manajemen TOWR mengharapkan penghematan biaya bunga lebih lanjut mulai kuartal IV-2025 dan seterusnya, yang mencerminkan efek kuartal penuh dari penurunan pokok pinjaman.

Lingkungan suku bunga yang menurun saat ini memberikan dorongan tambahan, dengan 53% utang TOWR berada pada suku bunga mengambang, sehingga perusahaan dapat memanfaatkan penurunan suku bunga lebih lanjut pada tahun 2026.

Potensi permintaan sewa baru tetap menjanjikan, terutama didorong oleh akselerasi fiberisasi menara (FTTT) oleh operator seluler yang ingin mengoptimalkan kapasitas jaringan data mereka secara nasional.

Kebutuhan akan densifikasi jaringan untuk persiapan layanan 5G serta partisipasi dalam program pemerataan internet pemerintah akan memacu permintaan baru, baik untuk menara fisik maupun layanan konektivitas di wilayah suburban dan rural.

“Pergeseran strategi operator ke arah layanan terintegrasi juga membuka peluang bagi TOWR untuk menawarkan solusi bernilai tambah seperti Managed Services dan solusi energi terbarukan di lokasi menara,” jelas Abida.

Gani memproyeksikan pendapatan dan laba bersih TOWR tahun 2025 masing-masing Rp 13,11 triliun dan Rp 3,39 triliun. Pada tahun 2024, TOWR mencatatkan pendapatan sebesar Rp 12,74 triliun dan laba bersih Rp 3,34 triliun.

Baik Gani maupun Abida merekomendasikan untuk membeli saham TOWR dengan target harga masing-masing Rp 700 per saham dan Rp 770 per saham.