Tutup
News

Proyek Panel Surya Pertamina–LONGi Perkuat Transisi Energi Nasional

205
×

Proyek Panel Surya Pertamina–LONGi Perkuat Transisi Energi Nasional

Sebarkan artikel ini
proyek-panel-surya-pertamina–longi-perkuat-transisi-energi-nasional
Proyek Panel Surya Pertamina–LONGi Perkuat Transisi Energi Nasional

Bekasi – Pemerintah Indonesia terus berupaya mempercepat transisi energi melalui pengembangan energi baru terbarukan (EBT), salah satunya dengan menggandeng pihak swasta untuk membangun fasilitas manufaktur panel surya. Proyek kolaborasi antara Pertamina New & Renewable Energy (NRE) dan LONGi green Technology Co., Ltd. ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi panel surya dalam negeri secara signifikan.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani, menyampaikan bahwa proyek ini krusial dalam mendukung target bauran energi nasional sebesar 34,3 persen pada tahun 2034. “Dari target tersebut, 61 persen atau 42,6 GW berasal dari pembangkit EBT,” ujarnya di Jakarta, Selasa (24/6/2025). Ia menambahkan, pemerintah berharap proyek ini dapat berjalan lancar dan berkontribusi pada implementasi RUPTL dengan target tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW).

Apresiasi terhadap kerja sama antara LONGi dan Pertamina NRE disampaikan oleh Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM, Edy Junaedi. Menurutnya, langkah ini tidak hanya meningkatkan kapabilitas manufaktur nasional, tetapi juga mengintegrasikan Indonesia ke dalam rantai pasok global industri EBT.”Hal ini akan memperkuat dan meningkatkan kolaborasi kedua negara dalam mempercepat transisi energi,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara Project Launching Solar PV Manufacturing di Delta Mas, Bekasi, Jawa Barat, Senin (23/6/2025).

Data dari Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa kemampuan produksi panel surya dalam negeri saat ini baru mencapai 1,6 GWp per tahun. Dengan adanya proyek ini, kapasitas produksi nasional diharapkan meningkat menjadi 3 GWp, dengan target jangka panjang mendukung pengembangan PLTS hingga 300-400 GWp pada 2060.

CEO Pertamina NRE, John Anis, menjelaskan bahwa kerja sama ini merupakan tonggak penting dalam transisi energi di Indonesia. Ia menyatakan, “Dengan membangun kapasitas manufaktur lokal, kami ingin memperkuat rantai pasok solar PV dalam negeri, menurunkan biaya produksi, dan menciptakan lapangan kerja hijau yang berkeahlian tinggi.”

Wakil Presiden LONGi Global, Dennis She, melihat kerja sama ini sebagai peluang penting bagi perusahaannya untuk mengembangkan bisnis di Asia Tenggara, khususnya di sektor energi. “Kami berharap bisa terus mendukung target transisi energi di Indonesia dengan saling berbagi pengetahuan dan teknologi dalam industri solar PV,” tuturnya.

Pemerintah Indonesia telah memiliki peta jalan peningkatan permintaan solar PV hingga 2035. Proyek ini dinilai sangat potensial dan mendukung pengembangan PLTS dalam RUPTL, serta mendorong industri supply chain seperti solar cell dan pengembangan proyek hidrogen hijau (green hydrogen) ke depannya.

Vice President Corporate Interaction PT Pertamina (Persero), Fadjar Djoko Santoso, menambahkan bahwa langkah Pertamina NRE dalam mendorong pengembangan energi transisi merupakan upaya proaktif dalam mendukung target swasembada energi dan net zero emission (NZE) pemerintah. “Sejalan dengan program Pertamina sebagai pemimpin energi transisi,kami berharap proyek pembangunan fasilitas manufaktur panel surya ini dapat memperkuat ekosistem energi transisi di Indonesia,” terangnya dalam keterangan resmi Pertamina NRE.Proyek strategis ini merupakan bagian dari upaya Pertamina NRE dalam mewujudkan visi Net zero Emission 2060. Inisiatif ini juga mendukung pemenuhan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), serta memenuhi permintaan yang terus meningkat terhadap modul solar PV di pasar domestik dan kawasan Asia Tenggara.

Fasilitas ini ditargetkan memiliki kapasitas produksi sebesar 1,4 GW per tahun dan akan menggunakan teknologi terbaru dari LONGi. Perusahaan asal China tersebut merupakan pemimpin global dalam manufaktur solar PV dengan teknologi Hybrid passivated Back Contact (HPBC) 2.0 tipe N yang menghasilkan modul surya berdaya efisiensi tinggi. Lokasi proyek berada di Deltamas, Jawa Barat, dan diharapkan dapat menyerap tenaga kerja lokal serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.