Tutup
EkonomiPerbankan

Purbaya Mengkritik, Salah Urus Ancam Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

231
×

Purbaya Mengkritik, Salah Urus Ancam Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Sebarkan artikel ini
purbaya-sebut-ekonomi-ri-loyo-di-awal-2025-karena-salah-urus
Purbaya Sebut Ekonomi RI Loyo di Awal 2025 karena Salah Urus

Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa blak-blakan soal penyebab perlambatan ekonomi indonesia di awal tahun 2025. Ia menyebut, kesalahan pengelolaan internal menjadi biang keladinya.

Hal ini diungkapkan Purbaya saat Rapat kerja (Raker) dengan Komisi XI DPR RI, Kamis (27/11), di Jakarta Pusat.

Purbaya menjelaskan, perlambatan ekonomi terjadi sejak Januari hingga Agustus 2025. Ia sendiri baru menjabat sebagai menkeu pada 8 September 2025, menggantikan sri Mulyani.

“Perlambatan ekonomi kita sepanjang delapan bulan pertama tahun ini bukan hanya karena faktor global, tapi juga karena salah urus di dalam yang sudah kita perbaiki,” tegas purbaya.

Lebih lanjut, Purbaya memaparkan data pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran, termasuk konsumsi pemerintah. Ia menyoroti adanya kontraksi belanja pemerintah pada dua kuartal pertama.

Angkanya cukup signifikan, yaitu -1,37 persen di kuartal I dan -0,33 persen di kuartal II 2025.

Akibatnya,pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 hanya mencapai 4,87 persen secara tahunan.

Namun, ada sedikit angin segar. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan peningkatan menjadi 5,12 persen (yoy) pada kuartal berikutnya dan 5,04 persen secara tahunan.

“Kuartal III (2025) sekarang tumbuh positif 5,5 persen. jadi, di dua kuartal pertama tahun ini pemerintah belanjanya lambat sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi kita,” jelas Purbaya.

Menkeu Purbaya berjanji akan memperbaiki kinerja belanja pemerintah. Ia memastikan konsumsi pemerintah akan terus tumbuh di kuartal I tahun depan (2026).

“kita akan cegah belanja yang terlambat dari pemerintah sehingga dorongan ke ekonominya akan tetap kuat,” ujarnya.

Sementara itu, wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menjelaskan penyebab lambatnya belanja kementerian/lembaga (K/L) di awal tahun 2025.

Ia menyinggung Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 terkait efisiensi anggaran.

“Dilakukan efisiensi dan pencadangan pada Februari (2025). Pemblokiran anggaran baru dimulai Maret, kemudian dibuka, relokasi, dan lainnya pada April. Sehingga belanja barang baru mulai meningkat pada April-Mei, terus meningkat Juli, Agustus, September, Oktober,” terang Suahasil.

“Kita mendorong setiap K/L untuk menyelesaikan belanja barang sesuai anggarannya sehingga bisa menjadi efek positif bagi pertumbuhan. Pola belanja ini seperti biasa Oktober, November, Desember akan tinggi,” pungkasnya.