Padang – Konferensi internasional tentang mitigasi bencana (ICDMM-3) merekomendasikan sejumlah langkah penting bagi pemerintah untuk menekan risiko bencana dan mengurangi jumlah korban jiwa. Rekomendasi ini diharapkan dapat menjadi panduan dalam menghadapi potensi ancaman bencana di masa depan.
Dekan Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand), Is Prima Nanda, menyebut konferensi yang berlangsung dua hari itu sukses mempertemukan para ahli, praktisi, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara.
“Konferensi ini menjadi wadah untuk berbagi informasi dan teknologi mitigasi bencana,” kata Is Prima Nanda.
ICDMM-3 yang diselenggarakan oleh Magister Manajemen Bencana sekolah Pascasarjana Unand, Pusat Studi Bencana (PSB), Fakultas Teknik, dan LPPM Unand, bekerja sama dengan SIAP SIAGA dan BNPB, dinilai sangat bermanfaat dalam memperkuat upaya mitigasi bencana.
Konferensi ini menekankan pentingnya mitigasi berbasis riset, pendekatan struktural (tata ruang, bangunan tahan gempa), dan non-struktural (pendekatan masyarakat dan teknologi).
“Mitigasi bencana sangat diperlukan karena kita tidak tahu kapan megathrust akan terjadi,” tegas Is Prima Nanda.
Meski belum ada teknologi yang dapat memprediksi secara pasti kapan gempa megathrust akan terjadi, potensi dan pola sejarahnya nyata.
Pusat Studi Bencana (PSB) Unand secara rutin mengadakan diskusi, workshop, dan seminar untuk mengedukasi masyarakat dan mengkaji dampak megathrust.
Mitigasi bencana dapat dilakukan melalui pendekatan ilmiah dan teknologi, pemanfaatan big data, AI, dan iot untuk sistem peringatan dini, serta pemetaan risiko berbasis GIS.
Penguatan kebijakan dan regulasi, sinkronisasi kebijakan nasional dan daerah, serta integrasi mitigasi bencana dalam tata ruang dan pembangunan infrastruktur juga menjadi poin penting.
Keterlibatan masyarakat melalui edukasi kebencanaan sejak dini dan simulasi evakuasi rutin juga sangat diperlukan.Kolaborasi multisektor antara pemerintah, universitas, dunia usaha, dan NGO, serta pertukaran pengetahuan internasional, dapat mempercepat transfer riset menjadi kebijakan nyata.
Rekomendasi lainnya mencakup penguatan infrastruktur tahan bencana, rehabilitasi ekosistem sebagai mitigasi alami, serta penyediaan energi dan logistik darurat yang terdesentralisasi.







