Tutup
Regulasi

Reksadana Offshore: Saham Teknologi dan Dolar AS Jadi Penentu?

177
×

Reksadana Offshore: Saham Teknologi dan Dolar AS Jadi Penentu?

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Kinerja reksadana berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) atau reksadana *offshore* diprediksi masih menjanjikan pada tahun 2026. Penguatan dolar dan performa positif pasar saham global menjadi katalis utama.

Direktur Investasi Bahana TCW, Doni Firdaus, menyatakan bahwa reksadana *equity dollar* menunjukkan ketahanan yang kuat sepanjang tahun 2025 dengan kinerja yang relatif baik.

Sektor teknologi informasi, terutama industri semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI), terus menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi global.

Di tengah kekhawatiran perlambatan pendapatan akibat tensi perang dagang, saham-saham semikonduktor dan AI tetap menjadi penopang utama kinerja reksadana global. Kontribusi saham-saham asal China juga turut memperkuat performa reksadana dolar tahun ini.

Doni menambahkan, tren investasi global mulai bergeser. Investor tidak lagi hanya berfokus pada pasar Amerika Serikat, tetapi juga melirik negara-negara lain seperti China, Jerman, dan Jepang. Ketiga negara ini dinilai semakin agresif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter.

Hingga akhir November 2025, ketiga negara tersebut mencatatkan kinerja pasar yang relatif lebih baik.

Prospek reksadana dolar pada tahun 2026 dipandang positif. Pertumbuhan ekonomi global yang didukung bauran kebijakan moneter dan fiskal di berbagai negara memberikan ruang investasi yang lebih luas bagi investor Indonesia.

“Reksadana *offshore* dinilai menawarkan eksposur ke saham-saham global, terutama perusahaan yang bergerak di sektor AI dan pemanfaatannya di berbagai industri, tanpa bergantung pada satu negara saja,” kata Doni.

Doni menilai bahwa pertumbuhan perusahaan ke depan tidak hanya dilihat dari sisi angka pendapatan, tetapi juga dari kualitas laba. Sektor non-teknologi diperkirakan mulai menunjukkan efisiensi berkat pemanfaatan AI, sehingga membuka peluang investasi pada saham-saham dengan valuasi yang relatif lebih murah. Tingginya likuiditas global juga berpotensi menopang valuasi aset berisiko.

Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah sentimen utama yang akan memengaruhi pergerakan reksadana dolar tahun depan.

“Tiga faktor utama yang perlu diperhatikan adalah arah kebijakan moneter global, valuasi relatif aset, serta kondisi likuiditas pasar,” ujarnya.

Tingkat produktivitas global dan dinamika harga komoditas dasar juga menjadi faktor penting, terutama di tengah upaya berbagai negara meningkatkan porsi energi terbarukan. Perubahan struktur energi tersebut berpotensi memberikan implikasi terhadap inflasi global.

Doni menyarankan strategi investasi pada reksadana *offshore* pada tahun 2026 sebaiknya berfokus pada empat pilar utama, yaitu inflasi, likuiditas, kualitas laba, dan valuasi.

Meskipun peluang investasi di luar AS dinilai semakin menarik, pasar AS tetap tidak bisa diabaikan mengingat pangsa pasarnya yang mencapai sekitar 70% dari pasar global.

Fokus investasi disarankan pada perusahaan global yang memiliki eksposur pendapatan signifikan dari pasar non-AS, sekaligus mencermati peluang pertumbuhan dari ekonomi China dan negara-negara berkembang (*emerging markets*).