Tutup
News

Revenge Saving Jadi Tren, Masyarakat Agresif Menabung!

337
×

Revenge Saving Jadi Tren, Masyarakat Agresif Menabung!

Sebarkan artikel ini
mengenal-revenge-saving,-tren-menabung-yang-lagi-naik-daun-di-2025
Mengenal Revenge Saving, Tren Menabung yang Lagi Naik Daun di 2025

Jakarta – Generasi muda dan pekerja urban di Indonesia kini semakin sadar akan pentingnya stabilitas finansial.Hal ini tercermin dari meningkatnya tren “revenge saving,” sebuah fenomena di mana masyarakat berupaya menabung secara signifikan sebagai kompensasi atas gaya hidup konsumtif yang pernah dijalani.

Fenomena ini muncul sebagai antitesis dari “revenge spending” yang sempat populer pasca-pandemi. Jika sebelumnya masyarakat cenderung berbelanja besar-besaran setelah pembatasan sosial, kini mereka justru berusaha “membalas” perilaku boros tersebut dengan menekan pengeluaran dan mempercepat akumulasi tabungan.

Tren “revenge saving” tidak hanya menjadi perbincangan hangat di Amerika Serikat, tetapi juga mulai dirasakan dampaknya di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Menurut laporan Yahoo finance, “revenge saving” adalah strategi menabung agresif sebagai bentuk koreksi atau pelampiasan setelah mengalami tekanan finansial, penyesalan belanja, atau ketidakpastian ekonomi. Laporan MarketWatch dan Finance Monthly pada Jumat (27/6/2025) juga menyoroti bahwa tren ini semakin menguat, dengan semakin banyak orang memilih untuk menyimpan dana ekstra guna menghadapi situasi yang tidak terduga.

Lebih dari sekadar menabung biasa, “revenge saving” menjelma menjadi gaya hidup yang benar-benar membatasi konsumsi. para pelaku “revenge saving” secara sadar menghindari pengeluaran untuk hiburan, belanja impulsif, bahkan liburan, demi memperkuat kondisi finansial pribadi.Terdapat sejumlah faktor yang memicu kemunculan tren “revenge saving.” Pertama, rasa bersalah setelah melakukan belanja besar-besaran pasca-pandemi membuat banyak orang menyesal karena tidak memiliki cukup simpanan atau merasa terlalu konsumtif.

Kedua, ketidakpastian ekonomi global, seperti inflasi, fluktuasi suku bunga, dan ancaman resesi, mendorong banyak orang untuk berjaga-jaga secara finansial. Ketiga, meningkatnya kesadaran finansial akibat pandemi membuat banyak orang menyadari pentingnya dana darurat, sehingga mereka menabung bukan untuk tujuan konsumsi, melainkan untuk keamanan jangka panjang.

Keempat, dorongan dari media sosial melalui konten tentang minimalisme, frugal living, dan financial freedom turut mempopulerkan tren ini di kalangan generasi Z dan milenial.

Ciri-ciri pelaku “revenge saving” antara lain adalah pengurangan drastis pengeluaran untuk hiburan dan konsumsi,menabung lebih dari 30-50% dari penghasilan,merasa cemas jika tidak bisa menyisihkan uang dalam jumlah besar,lebih memilih menggunakan transportasi umum daripada ride-hailing,dan menolak membeli barang baru meskipun mampu secara finansial.Menabung secara agresif memang baik, tetapi jika dilakukan berlebihan juga dapat berdampak negatif secara mental dan sosial. Untuk melakukan “revenge saving” secara sehat, disarankan untuk mengotomatisasi tabungan dengan menyisihkan sebagian penghasilan secara otomatis ke rekening tabungan di awal bulan.

Selain itu, terapkan prinsip “no-buy month” dengan menantang diri sendiri untuk tidak berbelanja selain kebutuhan pokok selama satu bulan. Lakukan kurasi langganan digital dengan membatalkan layanan streaming atau aplikasi berbayar yang jarang digunakan.

Tetapkan tujuan finansial yang realistis, misalnya menabung Rp10 juta dalam 6 bulan untuk dana darurat, bukan sekadar menimbun uang tanpa arah. Jaga keseimbangan hidup dengan tetap menyisihkan dana untuk hiburan dan sosial agar tidak merasa stres atau terisolasi.

Secara umum, “revenge saving” adalah langkah yang baik selama dilakukan dengan sadar dan tidak ekstrem. Pakar agribisnis dan ekonomi dari berbagai laporan media internasional menyatakan bahwa meningkatnya jumlah simpanan masyarakat dapat memberikan stabilitas keuangan pribadi dan ketahanan terhadap gejolak ekonomi.

Namun, jika seseorang sampai merasa bersalah setiap kali berbelanja kebutuhan dasar atau justru mengalami stres karena terlalu menekan gaya hidup, itu bisa menjadi pertanda bahwa strategi tersebut perlu ditinjau ulang.

Tren “revenge saving” mencerminkan pergeseran cara berpikir masyarakat terhadap uang. Dari yang sebelumnya konsumtif dan impulsif, kini beralih ke gaya hidup yang lebih hati-hati dan penuh pertimbangan. di tengah situasi ekonomi yang tidak pasti, strategi ini bisa menjadi langkah awal untuk meraih keamanan finansial jangka panjang. Jika dilakukan dengan cermat, “revenge saving” bukan hanya tren sesaat, tetapi bisa jadi gaya hidup keuangan masa depan yang lebih berkelanjutan.