Tutup
News

RI ‘Diserbu’ Baja Impor dari Vietnam-China, Asosiasi Soroti Regulasi

251
×

RI ‘Diserbu’ Baja Impor dari Vietnam-China, Asosiasi Soroti Regulasi

Sebarkan artikel ini
ri-‘diserbu’-baja-impor-dari-vietnam-china,-asosiasi-soroti-ketimpangan-regulasi
RI ‘Diserbu’ Baja Impor dari Vietnam-China, Asosiasi Soroti Ketimpangan Regulasi

Jakarta – Ketua Umum Masyarakat Baja Konstruksi Indonesia (ISSC), Budi Harta Winata, menyoroti ketidaksetaraan regulasi yang dihadapi ​industri baja nasional di​ tengah gempuran produk impor. Ia mendesak pemerintah untuk memberlakukan standar yang sama bagi semua produk baja, baik lokal maupun impor.

Menurut Budi,derasnya impor baja konstruksi dari Vietnam ⁢dan China telah mengancam‌ keberlangsungan industri baja dalam negeri. “Sekarang ini kita kebanjiran⁣ produk impor dari Vietnam dan China. Hal ‌ini sangat mengganggu keberlangsungan industri ‌konstruksi baja dalam negeri,” kata Budi dalam keterangannya, Kamis (17/7/2025).

Budi menjelaskan, banyak pelaku industri baja ‍nasional kesulitan bersaing ‌dengan harga baja impor, meskipun produk dalam negeri telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) tahun 2020 yang mencakup aspek bentuk, spesifikasi, hingga ⁢standar ​ketahanan gempa.

ia juga menampik anggapan bahwa produk‍ baja lokal mahal. Menurutnya,harga tersebut sebanding dengan kualitas dan standar yang harus dipenuhi. “ada salah ‍persepsi kalau konstruksi baja dalam negeri itu dibilang mahal.⁣ Bukan ‌mahal, tapi memang secara bentuk⁤ dan spesifikasinya ‌berbeda karena harus ‌mengacu⁢ pada peraturan SNI tahun 2020 terkait desain hingga standar tahan gempa,” ujarnya.

Budi mengusulkan agar pemerintah menegakkan peraturan secara konsisten terhadap semua produk baja yang masuk ke pasar domestik. “Mestinya harus ada peraturan yang sama, biar adil. Jangan kita konstruksi baja lokal harus mengikuti aturan, sedangkan yang dari luar negeri itu tidak pakai aturan itu,” ⁣kata Budi.Lebih lanjut, Budi mengungkapkan bahwa produsen dalam negeri sebenarnya mampu memproduksi baja dengan kualitas serupa, bahkan dengan harga lebih murah ⁤karena tidak‍ ada biaya pengiriman. Namun, mereka memilih untuk tetap berpegang ‍pada standar mutu yang ditetapkan. “Kami bisa saja membuat ‌produk seperti dari Vietnam dan China dengan harga ​yang pasti jauh lebih⁤ murah, karena tidak ada ongkos kirim.⁢ Tapi kan⁢ kita tidak berani karena itu tidak sesuai standar SNI,” pungkasnya.