Padang – Pemerintah Kota Padang menegaskan komitmennya untuk terlibat aktif dan penuh dalam tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatera Barat, khususnya Kota Padang.
Komitmen tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Padang, Fadly Amran, dalam Rapat Koordinasi Finalisasi Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) Hidrometeorologi Sumbar yang digelar di Auditorium Gubernuran Sumbar, Kamis (8/1/2026).
Rakor strategis ini menjadi momentum penting dalam menyatukan langkah pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten dan kota untuk mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Sekretaris Utama BNPB, Rustian, dan dihadiri Gubernur Sumbar yang diwakili Sekretaris Daerah Provinsi Sumbar, Arry Yuswandi, unsur Forkopimda, serta seluruh bupati dan wali kota se-Sumatera Barat.
Dalam forum tersebut, Fadly Amran memaparkan secara rinci data R3P Kota Padang yang menggambarkan besarnya dampak bencana banjir dan longsor yang terjadi pada akhir November 2025. Bencana tersebut tercatat berdampak langsung terhadap 67.563 warga yang tersebar di lima kecamatan di Kota Padang.
Kerusakan pada sektor permukiman menjadi salah satu perhatian utama. Berdasarkan data yang disampaikan, sebanyak 5.523 unit rumah mengalami kerusakan, dengan rincian 546 unit rusak berat, 2.174 unit rusak sedang, dan 2.949 unit rusak ringan.
Kondisi ini menuntut penanganan serius dan terukur agar pemulihan kehidupan masyarakat dapat berjalan optimal.
Selain rumah warga, bencana juga menimbulkan kerusakan signifikan pada infrastruktur strategis.
Tercatat 13 jembatan mengalami kerusakan berat, disusul kerusakan sepanjang 74.327 meter jalan, 22 bendungan, serta 56 jaringan irigasi pertanian. Sementara itu, kerusakan sedang tercatat pada 3.050 meter ruas jalan yang turut menghambat mobilitas masyarakat.
Wakil Wali Kota Padang, Maigus Nasir, menambahkan bahwa dampak bencana juga merambah pada sistem penyediaan air bersih dan fasilitas publik.
Kerusakan meliputi 11 intake SPAM Pamsimas, delapan intake SPAM Perumda Air Minum, serta kerusakan pada tebing sungai, drainase, dan fasilitas umum lainnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Fadly Amran menekankan bahwa proses rehabilitasi dan rekonstruksi harus dirancang tidak sekadar memulihkan kondisi fisik, tetapi juga memperkuat sistem mitigasi bencana.
Ia berharap seluruh program yang tertuang dalam dokumen R3P mampu menekan risiko bencana di masa depan dan menciptakan ketangguhan wilayah secara berkelanjutan.







