Padang – Ridwan Tulus, penggiat wisata asal Sumatera Barat, dikenal sebagai pelopor wisata tematik yang kini mendunia. Ia menawarkan konsep unik yang menggabungkan hobi dan relaksasi.
Sejak sepuluh tahun lalu, Ridwan menawarkan wisata spesifik, seperti tur mengamati burung langka atau kupu-kupu di hutan. Wisata “biology-forest” ini ternyata diminati banyak wisatawan.
Tak hanya itu, Ridwan juga mengembangkan “learning experience” tematik. Ia mengajak siswa SMA dari luar negeri belajar memasak masakan tradisional, silat, dan menari.
Minangkabau, dengan “slow food” seperti rendang dan penganan langka, menawarkan pengalaman unik bagi wisatawan. Anak-anak dari mancanegara dapat merasakan liburan di desa yang berbeda.
Gagasan terbarunya adalah menarik wisatawan asing yang gemar tinggal di desa, atau “second (slow) tourism”. Banyak wisatawan, terutama saat musim dingin, memilih tinggal lebih lama di desa.
Ridwan menceritakan pengalamannya mengajak wisatawan Belanda dan Malaysia menikmati suasana kampung. Mereka bahkan berebut untuk ikut serta.
Wisatawan diajak jalan pagi dan menikmati kopi Rp4.000 di warung kampung,serta mencicipi makanan lokal seperti ketan dan pisang goreng. Harga yang jauh lebih murah dibandingkan di luar negeri menjadi daya tarik tersendiri.
Wisatawan barat membutuhkan lokasi yang bersih, kamar, dan toilet yang terawat di desa yang mereka kunjungi. Bangunan sederhana justru menambah daya tarik,terutama jika mempertahankan nuansa rumah setempat.
Wisatawan Malaysia cenderung datang bersama keluarga karena rindu akan keindahan Minang, kuliner yang cocok, dan harga yang relatif murah.
Menggarap jenis wisata ini membutuhkan jaringan yang luas. Dengan ketekunan dan konsistensi, wisata tematik ini akan memberikan dampak positif bagi masyarakat.







