Tutup
Regulasi

Rupiah Menguat Jelang Natal 2025: Dolar AS Tertekan!

167
×

Rupiah Menguat Jelang Natal 2025: Dolar AS Tertekan!

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Setelah mengalami pelemahan selama tujuh hari berturut-turut, nilai tukar rupiah akhirnya menunjukkan tanda-tanda penguatan terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu (24/12/2025), tepat sehari sebelum libur Natal.

Data *Bloomberg* mencatat, rupiah dibuka menguat tipis 0,08% ke level Rp 16.773 per dolar AS di pasar spot. Angka ini lebih baik dibandingkan posisi penutupan hari Selasa (23/12/2025) yang berada di Rp 16.787 per dolar AS.

Penguatan rupiah ini sejalan dengan melemahnya tekanan terhadap dolar AS. Bahkan, mata uang Paman Sam ini diperkirakan akan mencatatkan kinerja tahunan terburuknya dalam lebih dari dua dekade.

Pemicunya adalah keyakinan investor bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), masih berpeluang untuk kembali memangkas suku bunga pada tahun depan.

Pada perdagangan di pasar Asia, Rabu (24/12), dolar AS terus berada di bawah tekanan. Solidnya data pertumbuhan ekonomi AS pun belum mampu mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed.

Saat ini, investor memprediksi The Fed akan melakukan sekitar dua kali pemangkasan suku bunga pada tahun 2026.

Kepala Ekonom AS Goldman Sachs, David Mericle, memperkirakan The Fed akan mengambil langkah kompromi dengan memangkas suku bunga dua kali masing-masing 25 basis poin ke kisaran 3%–3,25%. Ia juga menyoroti tren perlambatan inflasi yang terjadi.

Terhadap sekeranjang mata uang utama, indeks dolar sempat merosot ke level terendah dalam dua setengah bulan di posisi 97,767.

Sepanjang tahun ini, dolar telah melemah sekitar 9,9%. Penurunan ini berpotensi menjadi penurunan tahunan terdalam sejak tahun 2003.

Tekanan terhadap dolar juga dipengaruhi oleh dinamika kebijakan Presiden AS Donald Trump, termasuk penerapan tarif yang agresif serta meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap independensi The Fed akibat pengaruh politik yang menguat.

Analis HSBC dalam laporan prospek mata uang yang dilansir *Reuters* menuliskan, “Premi risiko dolar AS melebar pada Desember, yang menunjukkan bahwa pelemahan dolar tidak hanya mencerminkan prospek kebijakan moneter, tetapi juga meningkatnya kekhawatiran terhadap independensi The Fed.”