Jakarta – Rupiah diprediksi masih akan fluktuatif terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa (2/12/2025). Meski begitu, mata uang Garuda diperkirakan akan ditutup menguat.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) mencatat, kurs rupiah berada di level Rp 16.668 per dolar AS pada Senin (1/12/2025).
Posisi ini menunjukkan pelemahan 7 poin dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 16.661 pada Jumat (28/11/2025).
Namun, pada perdagangan pasar spot hari ini hingga pukul 09.01 WIB, rupiah diperdagangkan di Rp 16.631 per dolar AS.
Artinya, rupiah menguat 32 poin atau 0,19 persen dari posisi sebelumnya di Rp 16.663 per dolar AS.
Pengamat ekonomi dan pasar uang,Ibrahim Assuaibi,menilai penguatan rupiah dipengaruhi oleh pelemahan dolar AS di awal Desember 2025.
Indeks dolar pada Senin kemarin turun 0,18 persen di level 99,28.
Faktor lain yang memengaruhi adalah peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada pertemuan pekan depan.
“Pasar kini memperkirakan peluang The fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin sebesar 87 persen,” kata Ibrahim dalam riset hariannya.
Kabar kandidat kuat pengganti Ketua The Fed, Jerome Powell, yaitu Kevin Hassett yang dianggap berpandangan dovish, juga turut menekan dolar AS.
Pergeseran ekspektasi kebijakan ini membuat indeks dolar mencatat pelemahan mingguan terdalam dalam empat bulan.
Pelaku pasar juga menanti serangkaian data ekonomi AS seperti PMI Manufaktur ISM, data jasa, hingga klaim pengangguran.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari surplus perdagangan Indonesia pada Oktober 2025 yang mencapai US$2,39 miliar.
Surplus ini menjadi yang ke-66 secara berturut-turut sejak Mei 2020.
Penguatan PMI manufaktur Indonesia ke level 53,3 pada November 2025 juga menunjukkan adanya ekspansi selama empat bulan berturut-turut.
Perbaikan permintaan domestik juga turut mendukung stabilitas rupiah.
“Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 16.630 – Rp 16.670,” ujarnya.







