Tutup
Regulasi

Saham Chip Unggulan: Siap Melesat di Tahun 2026?

212
×

Saham Chip Unggulan: Siap Melesat di Tahun 2026?

Sebarkan artikel ini

Jakarta – Ledakan kecerdasan buatan (AI) global diprediksi masih jauh dari puncak. Bank of America (BofA) bahkan melihat industri semikonduktor baru berada di tengah transformasi besar yang diperkirakan akan berlangsung selama satu dekade.

BofA memproyeksikan penjualan chip global akan mencetak rekor baru pada 2026 dan menembus angka US$1 triliun atau sekitar Rp16,77 kuadriliun. Pemicunya adalah meningkatnya permintaan AI, pusat data, dan infrastruktur komputasi berskala besar.

Analis BofA, Vivek Arya, menyebut lonjakan AI justru semakin membesar. Ia memproyeksikan penjualan semikonduktor global akan melonjak sekitar 30 persen secara tahunan pada 2026.

Arya menambahkan, industri chip saat ini baru berada di “midpoint” dari transformasi jangka panjang yang dipimpin oleh Nvidia dan Broadcom.

BofA juga menyoroti enam saham chip dengan “moat” atau keunggulan kompetitif terkuat, yaitu Nvidia, Broadcom, Lam Research, KLA, Analog Devices, dan Cadence Design Systems.

Selain itu, BofA memperkirakan *total addressable market* (TAM) untuk sistem pusat data AI akan melampaui US$1,2 triliun pada 2030, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk sebesar 38 persen.

Meskipun pasar masih berhati-hati karena tingginya biaya pembangunan pusat data AI, Arya tetap optimistis. Menurutnya, investasi besar Big Tech bersifat ofensif dan defensif sekaligus.

Nvidia, yang saat ini menjadi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, dinilai Arya berada di level yang berbeda. Ia menyoroti perbedaan harga produk, di mana satu unit GPU Nvidia bisa mencapai sekitar US$30.000.

Sementara itu, Broadcom disebut Arya sebagai “sistem saraf” AI, jika Nvidia dianggap sebagai “otak”.

Goldman Sachs juga memberikan pandangan positif terhadap Broadcom dan menyebutnya sebagai pemain kunci dalam *boom* AI, dengan target harga US$450 per saham.

Meskipun demikian, Arya menegaskan bahwa jalan menuju penjualan US$1 triliun tidak akan mulus dan tidak ada saham yang sepenuhnya bebas risiko. Keenam saham pilihannya memiliki pangsa pasar dominan, umumnya berada di kisaran 70 hingga 75 persen.